Investor Tembus 30 Juta, Dhiraj Kelly Soroti Literasi Pasar Modal yang Baru 17 Persen

JAKARTA, 14 September 2026 — Pasar modal Indonesia kedatangan hampir sepuluh juta pemilik rekening baru sepanjang tahun ini. Bursa Efek Indonesia mencatat jumlah Single Investor Identification (SID) menyentuh 30.274.265 pada 7 Agustus 2026, bertambah 48,78 persen dibandingkan akhir tahun lalu. Sekitar 54 persen di antaranya belum berusia 30 tahun.

Kecepatan itu tidak diimbangi pemahaman. Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang disusun OJK bersama BPS dan LPS menempatkan indeks inklusi keuangan nasional di 93,61 persen, sementara indeks literasi keuangan baru 69,57 persen. Jarak 24,04 poin persentase di antara keduanya menggambarkan kondisi yang sederhana: produk keuangan sudah dipakai lebih luas daripada dipahami.

Pada instrumen pasar modal, jaraknya jauh lebih tajam. Indeks literasi pasar modal tercatat 17,78 persen menurut SNLIK 2025. Artinya, dari sepuluh orang yang kini memiliki akses terhadap layanan keuangan formal, tidak sampai dua yang benar-benar memahami produk investasi yang mereka beli.

Biaya dari kesenjangan itu terukur. Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) menghitung kerugian masyarakat dari investasi ilegal menembus Rp142,22 triliun pada rentang 2017 sampai kuartal III/2025. Indonesia Anti-Scam Centre juga menampung 515.345 laporan penipuan sepanjang 22 November 2024 hingga 31 Maret 2026.

“Hambatan masyarakat hari ini sudah bergeser. Dulu persoalannya bagaimana membuka akses, sekarang persoalannya bagaimana menilai apa yang sudah ada di genggaman,” kata Dr. Dhiraj Kelly, praktisi keuangan yang aktif pada edukasi manajemen risiko. “Satu aplikasi bisa diunduh dalam lima menit, tapi kemampuan membaca risikonya tidak tumbuh secepat itu.”

Tiga Hal yang Perlu Dipastikan sebelum Dana Ditempatkan

Dhiraj menilai kerugian investor pemula lebih sering lahir dari proses yang dilewati, bukan dari instrumen yang keliru. Ia memadatkan proses itu menjadi tiga hal.

Yang pertama menyangkut peruntukan: untuk apa dana tersebut disiapkan dan kapan akan dipakai. Yang kedua menyangkut batas: berapa besar penurunan nilai yang masih bisa diterima tanpa mengganggu keuangan rumah tangga. Yang ketiga menyangkut sumber dana: apakah uang itu benar-benar menganggur, atau sebenarnya dana kebutuhan, dana darurat, bahkan hasil pinjaman.

“Tiga hal ini terdengar membosankan dibanding membicarakan target keuntungan. Tetapi justru di situ letak perbedaan antara orang yang bertahan lama di pasar dan orang yang keluar setelah beberapa bulan,” ujarnya.

Menurutnya, materi edukasi finansial di media sosial terlalu berat sebelah. Potensi imbal hasil mendapat porsi besar, sedangkan volatilitas, drawdown, efek leverage, biaya transaksi, dan tekanan emosional ketika posisi bergerak berlawanan jarang dibahas dengan bobot yang sama.

Kerugian yang Tidak Disembunyikan

Perhatian Dhiraj pada manajemen risiko tumbuh dari pengalamannya sendiri menanggung kerugian besar di pasar keuangan sebelum ia menata ulang cara kerjanya. Pengalaman itu yang kemudian ia jadikan bahan pembahasan, alih-alih hanya menampilkan hasil yang baik.

“Edukasi yang hanya memajang keberhasilan akan menyesatkan, karena bagian yang paling banyak mengajarkan justru ada di kesalahan,” katanya. “Dari sana orang bisa melihat keputusan mana yang bermasalah, bagaimana dampaknya berjalan, dan apa yang harus dibenahi lebih dulu.”

Modal Lebih Dulu, Baru Keuntungan

Prinsip tersebut menjadi dasar RiskWise Community, komunitas edukasi yang ia kembangkan dengan semangat “Manage Risk. Protect Capital. Trade Smarter.” Pembahasannya berkisar pada pengenalan profil risiko, pengelolaan modal, pengendalian drawdown, pembedaan antara investasi dan spekulasi, serta evaluasi setelah keputusan berjalan tidak sesuai rencana.

Dhiraj mengingatkan agar keputusan investasi tidak diambil semata karena melihat angka imbal hasil, melainkan disesuaikan dengan tujuan, kondisi keuangan, kebutuhan likuiditas, dan daya tahan masing-masing orang terhadap kerugian.

Seluruh materi yang ia publikasikan bersifat edukatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual instrumen tertentu. Investasi dan trading mengandung risiko, dan setiap keputusan sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu yang bersangkutan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Related Posts

    Di tengah Kerumunan Solo Run Fest 2026, BRI Eksis Hadirkan Layanan Perbankan

    Ribuan pelari memadati Kota Surakarta, Jawa Tengah, dalam gelaran Solo Run Fest (SRF) 2026, Minggu (27/9/2026). Di tengah antusiasme sekitar 7.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara, PT…

    BINUS @Semarang Hadirkan SEWUNARA 2026, Ruang Kolaborasi Global untuk Membayangkan Kota Masa Depan

    BINUS @Semarang menghadirkan SEWUNARA (Semarang International Art & Design Festival) 2026, sebuah perayaan kreatif berskala internasional yang mempertemukan akademisi, industri, pemerintah, organisasi profesi, desainer profesional, seniman, dan mahasiswa dari berbagai…

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    CAPTCHA


    You Missed

    Di tengah Kerumunan Solo Run Fest 2026, BRI Eksis Hadirkan Layanan Perbankan

    Di tengah Kerumunan Solo Run Fest 2026, BRI Eksis Hadirkan Layanan Perbankan

    2026 Exam Predictions: ATARMAxxing Targets Year 12 Revision Gaps

    2026 Exam Predictions: ATARMAxxing Targets Year 12 Revision Gaps

    How Year 12 students are getting ahead of their peers in 2026

    How Year 12 students are getting ahead of their peers in 2026

    BINUS @Semarang Hadirkan SEWUNARA 2026, Ruang Kolaborasi Global untuk Membayangkan Kota Masa Depan

    BINUS @Semarang Hadirkan SEWUNARA 2026, Ruang Kolaborasi Global untuk Membayangkan Kota Masa Depan

    PTPN Group bersama Satgas Karhutla Kolaborasi Atasi Karhutla

    PTPN Group bersama Satgas Karhutla Kolaborasi Atasi Karhutla

    Bridging the ₱180 Billion Gap: Why Philippine MSMEs Remain Starved of Capital Despite Driving the Economy

    Bridging the ₱180 Billion Gap: Why Philippine MSMEs Remain Starved of Capital Despite Driving the Economy