Denpasar, (15/9) – PT SUCOFINDO (PERSERO) kembali menyelenggarakan Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026 sebagai ajang apresiasi bagi dunia usaha dan masyarakat yang menghadirkan inovasi lingkungan dan sosial berdampak nyata. Mengusung tema “Innovation for Sustainable Business and Resilient Community”, ENSIA 2026 hadir untuk mendorong lahirnya inovasi yang tidak hanya memperkuat daya saing bisnis, tetapi juga meningkatkan ketangguhan sosial dan lingkungan di tengah berbagai tantangan global.
ENSIA 2026 diselenggarakan di Bali dan dihadiri oleh Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Moh Jumhur Hidayat, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rahmat Pambudy, serta Gubernur Provinsi Bali, Wayan Koster.
Dalam sambutannya, Wayan Koster menyampaikan apresiasi kepada PT SUCOFINDO (PERSERO) atas konsistensinya menyelenggarakan ENSIA sebagai bentuk penghargaan kepada pelaku usaha yang menghadirkan inovasi di bidang lingkungan dan sosial. Menurutnya, ENSIA tidak hanya menjadi ajang pemberian penghargaan, tetapi juga bagian dari upaya membangun budaya inovasi, kepedulian lingkungan, dan tanggung jawab sosial di kalangan dunia usaha.
“Tema ENSIA 2026 sangat relevan dengan semangat pembangunan berkelanjutan yang terus kami dorong di Bali. Melalui visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali dan Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru, kami berkomitmen menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, inovasi yang mampu menjawab tantangan pengelolaan sampah, pengurangan emisi, efisiensi energi, konservasi air, perlindungan keanekaragaman hayati, serta pengembangan ekonomi sirkular perlu terus didorong dan diperluas,” ujarnya.
Wayan Koster menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi Bali terus mendorong pembangunan berbasis Ekonomi Kerthi Bali, yaitu pembangunan ekonomi yang menjaga keseimbangan antara alam, manusia, dan kebudayaan Bali. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang bagaimana kita menjaga alam, tetapi juga bagaimana memastikan masyarakat mendapatkan manfaat dan memiliki kesempatan untuk tumbuh bersama. Karena itu, diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan. Kita membutuhkan lebih banyak inovasi yang menjadikan lingkungan bukan sebagai beban biaya, melainkan sebagai investasi jangka panjang yang mampu memperkuat daya saing sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT SUCOFINDO (PERSERO), Sandry Pasambuna, menegaskan bahwa ENSIA bukan sekadar seremoni penghargaan, tetapi juga ruang kolaborasi dan wadah berbagi praktik terbaik (best practice) bagi pelaku usaha dalam mengembangkan inovasi keberlanjutan.
“ENSIA memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk menunjukkan komitmen dan capaian inovasinya kepada para pemangku kepentingan. Selain memperoleh pengakuan atas inovasi yang dijalankan, peserta juga mendapatkan ruang untuk berbagi praktik terbaik dan memperluas jejaring serta memperkuat reputasi perusahaan dalam aspek keberlanjutan. Bagi perusahaan yang mengikuti PROPER, apresiasi ENSIA dapat menjadi salah satu nilai tambah dalam mendukung aspek penghargaan nasional pada penilaian PROPER Hijau dan Emas,” jelasnya.
Sandry Pasambuna menambahkan bahwa tema “Innovation for Sustainable Business and Resilient Community” dipilih sebagai respons terhadap berbagai dinamika global, mulai dari ketidakpastian geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok hingga ancaman bencana ekologis akibat perubahan iklim. Melalui tema tersebut, PT SUCOFINDO (PERSERO) mendorong pelaku usaha untuk terus mengembangkan inovasi yang mampu mengoptimalkan efisiensi sumber daya, mengurangi dampak lingkungan, sekaligus memperkuat ketahanan sosial-ekonomi masyarakat di sekitarnya.
“Ke depan, kami berharap ENSIA terus berkembang sebagai platform inovasi keberlanjutan yang inklusif dan berdampak. Kami ingin merangkul lebih banyak perusahaan, komunitas, dan local hero yang terlibat serta menghadirkan inovasi yang mampu menjawab tantangan lingkungan dan sosial secara nyata. Yang terpenting, inovasi yang dihadirkan pada ENSIA tidak berhenti pada penghargaan, melainkan dapat direplikasi dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, lingkungan, dan pembangunan Indonesia,” tambahnya.
Sandry Pasambuna mengungkapkan bahwa antusiasme peserta terhadap ENSIA terus meningkat setiap tahunnya. ENSIA 2026 mencatat partisipasi 253 perusahaan dengan 954 paper dan 48 local hero, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang diikuti 178 perusahaan dengan 690 paper.
Menurut Wayan Koster, capaian tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak pelaku usaha yang menyadari bahwa keberlanjutan dan daya saing bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan. Wayan Koster berharap ENSIA terus berkembang menjadi wadah yang mempertemukan inovasi, praktik baik, dan kolaborasi sehingga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian pembangunan berkelanjutan di Indonesia, khususnya di Bali.
“Mari kita jadikan pembangunan berkelanjutan bukan sekadar slogan, tetapi menjadi cara berpikir, cara bekerja, dan budaya bersama. Mari kita wariskan kepada generasi mendatang bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga lingkungan yang lestari, masyarakat yang sejahtera, dan kehidupan yang harmonis,” tutupnya.
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES





