Emas Masih Bullish, Pasar Waspadai Potensi Koreksi Jelang Keputusan The Fed

Harga emas (XAUUSD) global terus mempertahankan momentum kenaikannya di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan geopolitik dunia. Tren bullish logam mulia ini didorong oleh meningkatnya permintaan aset safe-haven, ekspektasi pelonggaran moneter oleh Federal Reserve (The Fed), serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global. Namun, meski tren penguatan masih kuat, para pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi koreksi jangka pendek.

Menurut Andy Nugraha, Analis Dupoin Futures Indonesia,  , pergerakan teknikal emas (XAU/USD) masih menunjukkan kecenderungan naik yang solid. “Kombinasi candlestick dan Moving Average memperlihatkan tekanan beli yang masih dominan. Selama harga bertahan di atas area support penting, peluang kenaikan menuju $4.100 per troy ons masih terbuka,” ujar Andy.
Namun ia juga menambahkan, “Jika harga mengalami pembalikan arah dan menembus level kunci di $3.714, koreksi menuju area $3.628 berpotensi terjadi dalam jangka pendek.”

Fenomena ‘emas fever’ kini mulai terlihat di pasar Asia, terutama di Tiongkok, di mana investor ritel menghadapi dilema antara membeli di harga tinggi atau menunggu koreksi. Meningkatnya minat ritel menunjukkan keyakinan pasar terhadap potensi penguatan lanjutan, meskipun sebagian pelaku pasar menilai harga saat ini sudah terlalu tinggi untuk entry baru tanpa risiko yang signifikan.

Dari sisi fundamental, faktor utama yang menopang reli emas adalah meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Beberapa pejabat The Fed mengisyaratkan bahwa pelonggaran moneter mungkin diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah tanda-tanda perlambatan pertumbuhan. Penurunan suku bunga akan menekan nilai dolar AS serta menurunkan imbal hasil obligasi, dua kondisi yang secara historis memperkuat harga emas.

Selain kebijakan moneter, ketegangan geopolitik global juga turut menjadi katalis penting bagi reli harga emas. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah serta perang antara Rusia dan Ukraina mendorong arus modal menuju aset safe-haven. Di sisi lain, kondisi politik dan fiskal di AS yang tidak menentu—terutama potensi penutupan pemerintah (shutdown)—menambah kekhawatiran pasar dan memperkuat permintaan terhadap logam mulia ini.

Bank sentral di berbagai negara juga memperlihatkan peningkatan akumulasi emas sebagai bagian dari diversifikasi cadangan devisa mereka. Langkah ini menjadi sinyal bahwa emas kembali dianggap sebagai instrumen lindung nilai utama terhadap risiko inflasi dan ketidakpastian kebijakan fiskal global.

Meski demikian, volatilitas tetap tinggi. Jika data ekonomi AS—seperti inflasi dan pasar tenaga kerja—menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, The Fed dapat menunda pemangkasan suku bunga. Dalam skenario tersebut, dolar AS kemungkinan akan menguat kembali dan menekan harga emas di pasar global.

Secara teknikal, XAU/USD saat ini berada dalam fase konsolidasi ringan setelah reli yang cukup panjang. Level $3.714 masih menjadi batas psikologis penting bagi arah pergerakan jangka pendek. Selama harga bertahan di atas level tersebut, tren bullish tetap dominan dengan potensi menguji resistensi di $4.100. Namun jika terjadi penurunan di bawahnya, koreksi cepat menuju $3.628 bisa terjadi sebagai bagian dari pergerakan sehat sebelum potensi rebound baru.

Menurut Andy Nugraha, disiplin menjadi kunci utama dalam kondisi pasar seperti saat ini. “Trader perlu memperhatikan keseimbangan antara potensi upside dan risiko koreksi. Momentum masih berpihak pada buyer, tapi fase euforia ini harus diimbangi dengan strategi manajemen risiko yang ketat,” tegasnya.

Dengan kombinasi ekspektasi penurunan suku bunga, ketegangan geopolitik, dan meningkatnya minat investor global, harga emas masih berpotensi melanjutkan tren naiknya. Namun, para pelaku pasar sebaiknya tidak terlena—karena di balik reli kuat, potensi koreksi teknikal bisa muncul kapan saja sebagai bentuk penyesuaian pasar sebelum reli berikutnya dimulai.

  • Related Posts

    Sanct, Sosial Media yang Pertemanannya Dimulai dari Bertemu Langsung, Rilis Film Pendek tentang Perantau yang Belum Bisa Pulang

    Sanct, sosial media untuk sahabat dekat dan keluarga yang didirikan founder asal Indonesia, merilis episode ketiga dari seri film pendeknya di YouTube. Film ini bercerita tentang Keisha, perantau yang bekerja…

    68% Pencarian Kini Berakhir Tanpa Klik, Merek yang Tak Disebut AI Otomatis Tersingkir

    Cara orang menemukan sebuah merek sedang berubah secara mendasar. Menurut analisis SparkToro terhadap data Similarweb, sekitar 68% pencarian Google di Amerika Serikat pada 2026 berakhir tanpa satu klik pun ke…

    You Missed

    Singapore-registered start-up Sanct, a social app where first friends are added in person, releases third short film ahead of Tech in Asia Conference 2026

    Singapore-registered start-up Sanct, a social app where first friends are added in person, releases third short film ahead of Tech in Asia Conference 2026

    Sanct, Sosial Media yang Pertemanannya Dimulai dari Bertemu Langsung, Rilis Film Pendek tentang Perantau yang Belum Bisa Pulang

    Sanct, Sosial Media yang Pertemanannya Dimulai dari Bertemu Langsung, Rilis Film Pendek tentang Perantau yang Belum Bisa Pulang

    The Ultimate Guide to Selling Used Gold & Jewelry for Cash in Kuala Lumpur

    The Ultimate Guide to Selling Used Gold & Jewelry for Cash in Kuala Lumpur

    68% Pencarian Kini Berakhir Tanpa Klik, Merek yang Tak Disebut AI Otomatis Tersingkir

    68% Pencarian Kini Berakhir Tanpa Klik, Merek yang Tak Disebut AI Otomatis Tersingkir

    K-BEAUTY IS LANDING AT COLES AS SUPERMARKET SKINCARE GETS A GLOW-UP

    K-BEAUTY IS LANDING AT COLES AS SUPERMARKET SKINCARE GETS A GLOW-UP

    Siapkan Penerbitan Obligasi Rp500 Miliar pada Kuartal IV 2026, BRI Finance Perkuat Diversifikasi Pendanaan

    Siapkan Penerbitan Obligasi Rp500 Miliar pada Kuartal IV 2026, BRI Finance Perkuat Diversifikasi Pendanaan