Momentum Bullish Emas Belum Berakhir, Ada Potensi Pullback Jangka Pendek

Harga emas (XAU/USD) masih mempertahankan kilaunya di awal pekan ini setelah sempat menembus level psikologis penting di $4.300 per troy ounce pada akhir pekan lalu. Meskipun logam mulia ini mengalami sedikit tekanan menjelang penutupan perdagangan Jumat, sentimen pasar secara keseluruhan tetap positif. Dorongan utama datang dari ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter melalui pemangkasan suku bunga lanjutan dalam waktu dekat.

Menurut Wisnu Dewojati, Analis Dupoin Futures Indonesia, tren harga emas masih berada di jalur positif dengan dominasi pembeli yang kuat. “Kombinasi indikator teknikal seperti candlestick dan Moving Average masih menunjukkan arah naik yang solid,” jelasnya. Wisnu menilai bahwa selama tekanan beli tetap terjaga, harga emas berpotensi menembus area resistance $4.350, sementara level $4.186 menjadi titik penting yang membatasi ruang koreksi jangka pendek. “Jika harga turun di bawah area tersebut, tren jangka pendek bisa mengalami pembalikan sementara,” tambahnya.

Kendati demikian, Wisnu menilai bahwa setiap potensi koreksi teknikal masih tergolong sehat selama emas bertahan di atas area support kunci. Koreksi singkat justru dapat memberikan peluang bagi investor yang menunggu momentum re-entry untuk memanfaatkan tren bullish yang masih berlanjut. “Fase koreksi tidak selalu berarti pembalikan arah, justru bisa menjadi peluang beli baru jika momentum pasar kembali menguat,” ujarnya.

Dari sisi fundamental, pasar global masih diselimuti kombinasi antara optimisme dan kehati-hatian. Presiden AS Donald Trump pada Jumat lalu sempat memberikan sinyal bahwa tarif tinggi terhadap produk impor asal Tiongkok tidak akan diberlakukan secara permanen. Komentar tersebut disampaikan dalam wawancara dengan Fox Business, di mana Trump menegaskan bahwa dirinya akan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Korea Selatan dua minggu mendatang untuk melanjutkan pembahasan dagang.

Pernyataan Trump itu sempat memicu penguatan di pasar saham global dan mengurangi sementara daya tarik aset safe haven seperti emas. Namun secara keseluruhan, logam mulia masih berhasil mencatatkan kenaikan lebih dari 5% dalam sepekan terakhir, serta mempertahankan tren kenaikan selama sembilan pekan berturut-turut, yang menjadi rekor terpanjang dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter The Fed masih menjadi katalis utama bagi harga emas. Pasar memperkirakan bank sentral AS akan kembali menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan Oktober, diikuti dengan kemungkinan penurunan tambahan pada Desember. Ketua The Fed Jerome Powell baru-baru ini menegaskan bahwa pihaknya akan tetap berhati-hati dalam mengambil langkah kebijakan, namun tidak menutup peluang pelonggaran lebih lanjut mengingat tanda-tanda perlambatan di sektor tenaga kerja dan inflasi yang melemah.

Penurunan suku bunga menjadi sinyal positif bagi emas karena menurunkan biaya peluang memegang aset non-yield seperti logam mulia, sekaligus menekan nilai Dolar AS (USD) yang dalam beberapa hari terakhir terlihat melemah terhadap sejumlah mata uang utama.

Secara teknikal, grafik harian emas menunjukkan pola ascending channel, yang mengindikasikan potensi kelanjutan tren naik. Jika harga mampu menembus resistance $4.350, maka ruang kenaikan berikutnya terbuka menuju $4.375–$4.400. Namun jika tekanan jual meningkat, koreksi ke area $4.180–$4.200 masih sangat mungkin terjadi sebelum pasar kembali mencari arah baru.

Emas masih berada dalam fase bullish jangka menengah yang sehat,” pungkas Wisnu Dewojati. “Investor disarankan tetap waspada terhadap volatilitas menjelang rilis data ekonomi AS dan pernyataan pejabat The Fed minggu ini, karena keduanya bisa menjadi pemicu pergerakan harga berikutnya.”

Dengan kombinasi faktor teknikal yang mendukung, ekspektasi pemangkasan suku bunga, dan dinamika geopolitik yang belum reda, harga emas diperkirakan masih akan mempertahankan momentumnya. Namun, investor perlu berhati-hati terhadap potensi koreksi teknikal singkat sebelum logam mulia ini melanjutkan reli ke rekor berikutnya di atas $4.350 per troy ounce.

  • Related Posts

    Dominasi BTC dan USDT Bittime Jadi Sorotan di Tengah Tekanan Politik Trump dan Gejolak Minyak Dunia

    Jakarta, 23 Maret 2026 – Kondisi ekonomi global saat ini tengah berada dalam fase penuh ketidakpastian yang dipicu oleh kombinasi tekanan politik. Baik dari kebijakan domestik Amerika Serikat dan meningkatnya…

    Sinergi KAI, DJKA, dan BTP Tingkatkan Keselamatan di Perlintasan Sebidang di Hari Libur Idul Fitri 1447 H

    Palembang,23 Maret 2026 – Masa libur Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Regional III Palembang terus memperkuat komitmen keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna…

    You Missed

    Italian Atelier Kết Nối Chủ Đầu Tư Khách Sạn Và Các Nhà Cung Cấp Thượng Lưu Tại Đêm Tiệc Chiến Lược The Alpha Node Circle

    Italian Atelier Kết Nối Chủ Đầu Tư Khách Sạn Và Các Nhà Cung Cấp Thượng Lưu Tại Đêm Tiệc Chiến Lược The Alpha Node Circle

    Dominasi BTC dan USDT Bittime Jadi Sorotan di Tengah Tekanan Politik Trump dan Gejolak Minyak Dunia

    Dominasi BTC dan USDT Bittime Jadi Sorotan di Tengah Tekanan Politik Trump dan Gejolak Minyak Dunia

    Giải mã yếu tố con người trong dịch vụ hạng sang tại hội thảo Cracking The Luxury Code.

    Giải mã yếu tố con người trong dịch vụ hạng sang tại hội thảo Cracking The Luxury Code.

    Sinergi KAI, DJKA, dan BTP Tingkatkan Keselamatan di Perlintasan Sebidang di Hari Libur Idul Fitri 1447 H

    Sinergi KAI, DJKA, dan BTP Tingkatkan Keselamatan di Perlintasan Sebidang di Hari Libur Idul Fitri 1447 H

    Pengabdian Tahun Ketiga, MIND ID Perluas Peran Indonesia dan kontribusi Global

    Pengabdian Tahun Ketiga, MIND ID Perluas Peran Indonesia dan kontribusi Global

    Diversifikasi Trading: Mengapa Banyak Trader Memilih Multi-Instrumen

    Diversifikasi Trading: Mengapa Banyak Trader Memilih Multi-Instrumen