Menjahit Sejarah Dua Bangsa lewat Tekstil dalam “Waves Across the Oceans”

Hubungan panjang Indonesia dan India yang terjalin lewat jalur perdagangan maritim kembali disorot dalam diskusi buku Heritage Threads: A Tapestry of Indian and Indonesian Textiles bertajuk “Waves Across the Oceans”, yang digelar oleh JNICC bersama TORAJAMELO di Auditorium Wayang, Kedutaan Besar India Jakarta, Jakarta, Selasa (23/12/2025). Acara ini menjadi peluncuran ketiga buku tersebut setelah New Delhi dan Bali, sekaligus menandai Jakarta sebagai ruang penting perayaan dialog budaya lintas samudra.

Buku ini memotret tekstil sebagai medium yang melampaui fungsi estetika. Kain-kain India dan Indonesia dibaca sebagai arsip hidup yang merekam sejarah perjumpaan, pertukaran, dan adaptasi budaya selama berabad-abad. Sejak masa angin muson, kain dari India telah berlayar ke kepulauan Nusantara, lalu diolah kembali oleh komunitas lokal menjadi bagian dari ritual adat, simbol status, hingga identitas kultural.

Keindahan yang Melampaui Batas Negara

Desainer mode Auguste Soesastro, yang hadir sebagai guest of honor, membuka refleksi personal tentang keterhubungan dua budaya tersebut. “Saya selalu terpesona melihat bagaimana batik Indonesia bisa berdampingan dengan tekstil dari Coromandel Coast. Itu membuka mata saya bahwa kita sebenarnya sangat terhubung dan bahwa keindahan tidak mengenal batas negara,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa negara-bangsa hanyalah konstruksi modern, sementara seni dan budaya telah lama menyatukan manusia.

Benang yang Mengikat India dan Indonesia

Diskusi dipandu oleh Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, yang menegaskan bahwa tekstil adalah medium persatuan. “Di luar konstruksi negara-bangsa, ada begitu banyak budaya yang menyatukan kita. Benang, kain, dan busana justru menjadi sesuatu yang mengikat kita bersama,” kata Chakravorty. Menurutnya, buku ini berhasil menyampaikan pesan bahwa hubungan India dan Indonesia telah terjalin jauh sebelum kolonialisme membentuk batas-batas politik.

Sebagai penulis buku, Bhimanto Suwastoyo menjelaskan bahwa Heritage Threads tidak dimaksudkan sebagai kajian akademik yang berat. “Kami tidak mencoba membuat buku yang terlalu ilmiah. Ini adalah pengantar, sebuah ajakan untuk memahami mengapa Indonesia dan India begitu terhubung melalui tekstil,” ujarnya. Ia menyebut buku ini sebagai pemantik rasa ingin tahu agar pembaca terdorong menggali lebih dalam kekayaan tekstil tradisional kedua negara.

Dari sisi editorial, Dini Yusuf, pendiri TORAJAMELO, membagikan kisah di balik layar penyusunan buku yang penuh tantangan. “Banyak tekstil India yang masih digunakan dalam upacara adat di Toraja. Kain-kain itu bukan sekadar koleksi, tapi pusaka keluarga yang sangat dijaga,” tuturnya. Ia menekankan bahwa kain dagang dari India tidak berhenti sebagai artefak masa lalu, melainkan terus hidup dan bermakna dalam konteks budaya Indonesia hingga hari ini.

Pandangan kuratorial turut disampaikan oleh Ratna Panggabean, peneliti dan pakar tekstil Indonesia. Menurutnya, kemiripan teknik bukan berarti keseragaman. “Tekniknya bisa sama, tapi lingkungan, budaya, dan cara masyarakat memaknai kain membuat hasilnya selalu berbeda. Setiap kain punya karakter sendiri,” ujarnya.

Merawat Warisan, Membaca Masa Depan

Sementara itu, Aparna Saxena, CEO TORAJAMELO sekaligus co-editor buku, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas negara di era pascakolonial. “Saya orang India yang jatuh cinta pada Indonesia, dan Dini adalah orang Indonesia yang sangat mencintai India. Menghubungkan dua negara ini lewat tekstil adalah mimpi bersama kami,” ungkap Aparna. Ia juga menekankan urgensi menghidupkan kembali teknik pewarnaan alami dan produksi tekstil ramah lingkungan sebagai warisan bersama.

Melalui Heritage Threads, buku ini tidak hanya mendokumentasikan kain-kain bersejarah, tetapi juga mengangkat kisah manusia di baliknya. Waves Across the Oceans pun menjadi lebih dari sekadar diskusi buku. Ia menjelma ruang refleksi tentang bagaimana tekstil dapat menjadi jembatan diplomasi budaya, sekaligus pengingat bahwa jauh sebelum batas negara ditetapkan, benang-benang budaya telah lebih dulu menyatukan India dan Indonesia.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES.

  • Related Posts

    Kirim Uang ke Keluarga Beda Bank? Perhatikan Hal Ini

    Mengirim uang kepada orang tua, saudara, atau anggota keluarga yang tinggal di kota berbeda sudah menjadi bagian dari kebutuhan finansial sehari-hari. Namun, ketika rekening pengirim dan penerima berasal dari bank…

    KEPATIHAN MANAJEMEN / K MANAJEMEN PECAHKAN REKOR PESERTA FASHION SHOW TERBANYAK TAHUN 2026 MELALUI “KETAPANG ETHNIC DAY 2026”

    KETAPANG – Ajang “Ketapang Ethnic Day 2026 – Pemilihan Putra/Putri Ethnic Ketapang 2026” yang diinisiasi oleh Kepatihan Manajemen (K-Manajemen) sukses mencetak sejarah baru! Kompetisi yang diselenggarakan di Citimall Ketapang ini…

    You Missed

    Kirim Uang ke Keluarga Beda Bank? Perhatikan Hal Ini

    Kirim Uang ke Keluarga Beda Bank? Perhatikan Hal Ini

    KEPATIHAN MANAJEMEN / K MANAJEMEN PECAHKAN REKOR PESERTA FASHION SHOW TERBANYAK TAHUN 2026 MELALUI “KETAPANG ETHNIC DAY 2026”

    KEPATIHAN MANAJEMEN / K MANAJEMEN PECAHKAN REKOR PESERTA FASHION SHOW TERBANYAK TAHUN 2026 MELALUI “KETAPANG ETHNIC DAY 2026”

    New GASA Research: 71% of Adults Surveyed Across 13 Asian Markets Encountered Scams, with Estimated Losses of US$136.5 Billion

    New GASA Research: 71% of Adults Surveyed Across 13 Asian Markets Encountered Scams, with Estimated Losses of US6.5 Billion

    “Gods within Her”: Vietnamese Youth at the Heart of Milan Fashion Week

    “Gods within Her”: Vietnamese Youth at the Heart of Milan Fashion Week

    “Gods within Her”: Bản Lĩnh Người Trẻ Việt Tại Kinh Đô Thời Trang Milan

    “Gods within Her”: Bản Lĩnh Người Trẻ Việt Tại Kinh Đô Thời Trang Milan

    Pengguna LRT Jabodebek Tumbuh 18 Persen pada September 2026

    Pengguna LRT Jabodebek Tumbuh 18 Persen pada September 2026