Harga Emas Jatuh ke $4.030, Pasar Fokus pada Data NFP Pekan Ini

Harga emas (XAU/USD) kembali menunjukkan pergerakan tidak stabil pada awal pekan, di tengah meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar menjelang rilis data ekonomi penting Amerika Serikat. Pada sesi Senin (17/11), emas diperdagangkan fluktuatif setelah pasar mulai memperkirakan bahwa Federal Reserve (Fed) kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tetap pada pertemuan Desember. Ketidakpastian arah kebijakan moneter dan respons pasar terhadap data ekonomi membuat harga emas terus berada di bawah tekanan.

Memasuki perdagangan Selasa (18/11), emas kembali melemah dan bergerak di kisaran $4.030. Pelemahan ini terjadi seiring menurunnya ekspektasi penurunan suku bunga bulan depan, setelah serangkaian komentar hawkish dari pejabat The Fed. Selain itu, penguatan dolar AS selama tiga hari berturut-turut membuat emas semakin mahal dan menurunkan minat beli dari investor global. Pasar kini menunggu data Nonfarm Payrolls (NFP) AS bulan September, yang akan menjadi penggerak utama sentimen pada pekan ini. Setelah penutupan pemerintah AS yang panjang, banyak data resmi tertunda, sehingga laporan ekonomi mendatang diprediksi membawa volatilitas yang lebih besar.

Secara teknikal, analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menilai tekanan bearish pada XAU/USD kini semakin kuat. Berdasarkan formasi candlestick dan posisi Moving Average, Nugraha memperkirakan bahwa harga berpotensi melanjutkan penurunan menuju area $3.987, yang menjadi support penting pada perdagangan hari ini. Sementara itu, jika emas gagal menembus support tersebut dan muncul koreksi teknikal, peluang kenaikan terdekat diproyeksikan menuju area $4.050, level yang kini berfungsi sebagai resistance awal bagi emas sebelum dapat mencatat pemulihan lebih solid.

Selain faktor kebijakan moneter AS, pasar juga menyoroti perkembangan dari Tiongkok. Bank sentral negara tersebut diperkirakan kembali meningkatkan kepemilikan emasnya dengan menambah 15 ton pada bulan September. Langkah ini memperkuat pandangan bahwa akumulasi emas oleh bank sentral dunia menjadi tren jangka panjang, sebagai cara untuk mengurangi risiko geopolitik dan volatilitas keuangan global. Secara tidak langsung, pembelian dalam jumlah besar dari negara seperti Tiongkok dapat membantu menahan tekanan penurunan lebih dalam pada harga emas.

Di sisi lain, dinamika imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memainkan peran penting. Imbal hasil Treasury 10 tahun turun tipis ke 4,133%, sementara imbal hasil riil AS merosot ke 1,852%. Meski penurunan imbal hasil biasanya menjadi katalis positif untuk emas, dampaknya kali ini terbatas karena dolar AS masih mempertahankan momentum penguatannya. Pernyataan dari pejabat The Fed, termasuk Presiden Fed Atlanta Bostic dan Fed Kansas City Schmid, semakin menegaskan bahwa risiko inflasi belum sepenuhnya mereda, dan suku bunga kemungkinan tetap tinggi untuk jangka waktu lebih lama.

Wakil Ketua The Fed, Philip Jefferson, turut menambahkan bahwa tekanan inflasi kini mulai menunjukkan tanda penurunan, namun kondisi pasar tenaga kerja masih menjadi perhatian. Ia menilai kebijakan moneter saat ini sudah cukup restriktif, memberikan sinyal bahwa Fed lebih cenderung mempertahankan suku bunga dibanding segera menurunkannya.

Dengan tekanan fundamental dan teknikal yang masih dominan, Andy Nugraha menilai pergerakan emas hari ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan harga mempertahankan level $3.987. Jika gagal, tren bearish diperkirakan berlanjut. Namun, jika level tersebut bertahan, peluang koreksi menuju $4.050 tetap terbuka sebelum pasar memasuki fase yang lebih sensitif menjelang data NFP.

  • Related Posts

    Resmi Buka Kampus Baru, BINUS ASO Siapkan Talenta Engineering untuk Industri Masa Depan

    Kampus baru BINUS ASO di Kawasan Ekonomi Khusus D-HUB mengedepankan pembelajaran berbasis praktik, inovasi mahasiswa, dan kolaborasi pendidikan Indonesia–Jepang BINUS ASO School of Engineering resmi membuka kampus baru di Kawasan…

    Jasa Buzzer Adalah Promosi dengan Ketentuan dan Risiko Menurut JasaViral

    Jasa buzzer adalah promosi berbayar di media sosial untuk produk atau kampanye, dan perannya berbeda dari KOL maupun pendengung politik. JasaViral, platform social media marketing yang beroperasi sejak 2015, menguraikan…

    You Missed

    Get your gloves on Australia! Registrations for Clean Up Australia Day 2027 are now open

    Get your gloves on Australia! Registrations for Clean Up Australia Day 2027 are now open

    Resmi Buka Kampus Baru, BINUS ASO Siapkan Talenta Engineering untuk Industri Masa Depan

    Resmi Buka Kampus Baru, BINUS ASO Siapkan Talenta Engineering untuk Industri Masa Depan

    Jasa Buzzer Adalah Promosi dengan Ketentuan dan Risiko Menurut JasaViral

    Jasa Buzzer Adalah Promosi dengan Ketentuan dan Risiko Menurut JasaViral

    MEDIA ALERT: RECAP OF HIGHLIGHTS – PURANA AT SOLO BATIK FASHION X SOLO FASHION WEEK 2026

    MEDIA ALERT: RECAP OF HIGHLIGHTS – PURANA AT SOLO BATIK FASHION X SOLO FASHION WEEK 2026

    TOMOHON JAZZ FESTIVAL 2026 SUKSES DIGELAR DUA HARI DAN CATAT SEJARAH FESTIVAL BARU DI SULAWESI UTARA

    TOMOHON JAZZ FESTIVAL 2026 SUKSES DIGELAR DUA HARI DAN CATAT SEJARAH FESTIVAL BARU DI SULAWESI UTARA

    Jaga Kesehatan Pekerja, LRT Jabodebek Perkuat Fondasi Pelayanan Transportasi Publik

    Jaga Kesehatan Pekerja, LRT Jabodebek Perkuat Fondasi Pelayanan Transportasi Publik