Jakarta, 10 September 2026 — Harga Bitcoin (BTC) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Bitcoin turun sekitar 1,75% dalam 24 jam ke level US$78.119,62, sejalan dengan penurunan kapitalisasi pasar kripto global sekitar 2,01%.
Tekanan terhadap aset kripto terjadi ketika pasar mulai meningkatkan kewaspadaan menjelang pertemuan The Fed Amerika Serikat pada 16 September 2026. Pelaku pasar mencermati kemungkinan perubahan arah kebijakan suku bunga yang berpotensi memengaruhi aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Pergerakan Bitcoin saat ini juga menunjukkan hubungan yang cukup kuat dengan pasar saham AS, khususnya saham berkapitalisasi kecil yang tercermin dalam indeks Russell 2000. Korelasi Bitcoin dengan indeks tersebut berada di sekitar 83%, menunjukkan bahwa pergerakan BTC semakin sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan sentimen risk-off di pasar global.
Selain tekanan dari faktor makroekonomi, penurunan Bitcoin turut diperkuat oleh aksi likuidasi posisi leverage. Dalam 24 jam terakhir, nilai posisi kripto yang dilikuidasi mencapai lebih dari US$378 juta, dengan posisi long menjadi bagian terbesar dari likuidasi tersebut.
Kondisi tersebut menciptakan tekanan jual tambahan. Ketika harga Bitcoin turun, posisi leverage yang tidak lagi memenuhi persyaratan margin terpaksa ditutup. Penutupan posisi ini kemudian meningkatkan tekanan jual dan dapat mempercepat penurunan harga.
Pasar Menanti Data Inflasi AS
Perhatian investor saat ini tertuju pada data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada 11 September 2026. Data inflasi tersebut menjadi salah satu indikator penting yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi biasanya memberikan tekanan terhadap aset berisiko. Suku bunga yang tinggi dapat meningkatkan daya tarik dolar AS dan instrumen berpendapatan tetap, sementara aset seperti Bitcoin dan saham cenderung menghadapi tekanan ketika investor mengurangi eksposur terhadap risiko.
Pasar saat ini memperkirakan terdapat peluang sekitar 60% untuk kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed 16 September.
Namun, ekspektasi tersebut masih dapat berubah mengikuti perkembangan data ekonomi terbaru, terutama apabila angka inflasi AS menunjukkan hasil yang lebih tinggi dari perkiraan.
Bagi pasar kripto, kondisi ini membuat data CPI menjadi katalis penting dalam menentukan arah Bitcoin dalam jangka pendek.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan volatilitas Bitcoin saat ini perlu dilihat dalam konteks kondisi pasar global, terutama perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS.
“Pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan bahwa aset kripto semakin terintegrasi dengan dinamika pasar keuangan global. Ketika ekspektasi suku bunga berubah, investor akan menyesuaikan kembali tingkat risiko dalam portofolionya, dan Bitcoin ikut merespons perubahan tersebut,” jelasnya.
Menurut Yudho, tekanan harga dalam jangka pendek tidak serta-merta menunjukkan perubahan fundamental jangka panjang terhadap pasar kripto. Investor perlu membedakan antara volatilitas yang dipicu faktor makro dan perubahan struktur pasar yang lebih mendasar.
“Bagi investor, yang penting bukan hanya melihat penurunan harga harian, tetapi memahami apa yang menjadi pemicunya. Data inflasi, kebijakan The Fed, arus likuiditas, hingga tingkat leverage di pasar menjadi faktor yang perlu diperhatikan secara bersamaan,” katanya.
Level US$78.000 Jadi Area Penting Bitcoin
Dari sisi teknikal, level US$78.000 menjadi area penting yang perlu dipertahankan Bitcoin dalam jangka pendek.
Apabila BTC mampu bertahan di atas level tersebut, pergerakan harga berpotensi memasuki fase konsolidasi pada kisaran US$78.000 hingga US$79.200. Kondisi ini dapat mencerminkan upaya pasar untuk mencari keseimbangan setelah tekanan jual dalam beberapa sesi terakhir.
Sebaliknya, apabila Bitcoin menembus ke bawah US$78.000, risiko koreksi lebih lanjut akan meningkat. Area US$76.300 hingga US$77.000 menjadi zona yang perlu diperhatikan sebagai potensi target berikutnya.
Level US$76.230 juga menjadi salah satu titik terendah yang terbentuk sebelumnya dan dapat berfungsi sebagai area pertahanan berikutnya apabila tekanan jual berlanjut.
Di sisi atas, Bitcoin perlu kembali menembus US$79.200 untuk menunjukkan adanya pemulihan momentum. Penutupan candle empat jam di atas level tersebut berpotensi membuka ruang bagi Bitcoin untuk kembali menguji area US$80.000 hingga US$80.500.
Sementara itu, struktur pemulihan Bitcoin secara lebih luas masih belum sepenuhnya rusak. Harga BTC masih berada di atas rata-rata pergerakan 20 hari yang berada di sekitar US$70.242 berdasarkan data teknikal yang tersedia.
Leverage Tinggi Perbesar Tekanan Jual
Selain faktor The Fed, tingginya penggunaan leverage menjadi salah satu alasan mengapa penurunan Bitcoin dapat berlangsung lebih cepat.
Penurunan harga yang awalnya dipicu oleh kekhawatiran makro dapat memicu likuidasi posisi long. Ketika posisi tersebut ditutup secara otomatis, tekanan jual semakin besar dan dapat mendorong harga turun lebih jauh.
Dengan lebih dari US$378 juta posisi kripto yang dilikuidasi dalam 24 jam, pasar menunjukkan bahwa sebagian pelaku masih menggunakan tingkat leverage yang cukup tinggi.
Kondisi ini membuat pergerakan Bitcoin menjadi lebih sensitif terhadap perubahan harga dalam jangka pendek. Sedikit penurunan dapat memicu likuidasi tambahan, sementara pemulihan harga juga dapat berlangsung cepat ketika tekanan leverage mulai mereda.
Yudho menilai kondisi tersebut menjadi pengingat bagi investor untuk mempertimbangkan risiko volatilitas ketika mengambil keputusan di pasar aset digital.
“Ketika leverage meningkat, pergerakan pasar bisa menjadi jauh lebih cepat, baik ke atas maupun ke bawah. Karena itu, pengelolaan risiko menjadi semakin penting, terutama ketika pasar sedang menghadapi katalis besar seperti data CPI dan keputusan suku bunga,” ujar Yudho.
Bitcoin Masih Bertahan di Tengah Pasar Altcoin
Tekanan terhadap Bitcoin terjadi bersamaan dengan kondisi pasar altcoin yang relatif lebih rapuh. Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan mengalami penurunan, sementara Bitcoin masih mempertahankan posisinya di sekitar level US$78.000.
Sebelumnya, Bitcoin juga bergerak dalam rentang yang relatif sempit di bawah US$83.000 selama hampir dua pekan. Pola tersebut menunjukkan pasar masih menunggu katalis yang cukup kuat untuk menentukan arah berikutnya.
Dalam beberapa periode sebelumnya, fase konsolidasi serupa sempat diikuti oleh pergerakan harga yang lebih besar setelah Bitcoin berhasil menembus batas atas atau bawah rentang perdagangan.
Di sisi sentimen, indeks Fear and Greed masih berada di area Greed dengan skor sekitar 69. Artinya, meskipun Bitcoin mengalami tekanan dan bergerak sideways, kepercayaan investor terhadap pasar kripto belum sepenuhnya menghilang.
Investor kini menghadapi dua skenario utama. Jika Bitcoin mampu mempertahankan US$78.000 dan tekanan jual mereda setelah rilis CPI, BTC berpotensi kembali bergerak menuju US$79.200 dan selanjutnya menguji US$80.000.
Namun, apabila data inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat, tekanan terhadap Bitcoin dapat berlanjut. Penembusan US$78.000 berpotensi membawa harga menguji US$76.300 hingga US$77.000.
Untuk jangka pendek, menurut data FLOQ, pasar Bitcoin masih berada dalam fase menunggu katalis. Data CPI AS pada 11 September dan keputusan The Fed pada 16 September menjadi dua agenda utama yang berpotensi menentukan arah pergerakan BTC berikutnya.
“Pasar sedang berada pada fase yang sangat sensitif terhadap data ekonomi. Investor sebaiknya tetap disiplin dalam mengelola risiko dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan pergerakan harga dalam satu atau dua hari,” tutup Yudho.
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES





