57% Jawaban AI Tidak Menyebut Brand, Apa Dampaknya bagi Bisnis?

Penggunaan AI mengubah cara pengguna internet cari informasi, brand kini harus masuk dalam jawaban AI agar tetap terlihat.

Perubahan besar sedang terjadi terkait cara konsumen mencari informasi di internet. Jika sebelumnya pencarian didominasi oleh klik ke berbagai situs web melalui mesin pencari, kini semakin banyak pengguna yang langsung mendapatkan jawaban instan dari sistem berbasis kecerdasan buatan (AI).

Data terbaru menunjukkan bahwa perubahan ini bukan sekadar tren sementara. Riset terhadap 5.600 pencarian menemukan bahwa lebih dari separuh respons Google AI Overviews, yakni sebesar 57,5%, tidak menyebutkan brand apa pun. Artinya, dalam banyak kasus, pengguna mendapatkan jawaban tanpa eksposur terhadap brand tertentu.

Fenomena ini diperkuat oleh perubahan perilaku pencarian. Laporan SparkToro mencatat bahwa 58,5% pencarian Google berakhir tanpa klik ke situs eksternal. Sementara itu, Ahrefs menemukan bahwa kehadiran AI Overviews dapat menurunkan click-through rate (CTR) hasil pencarian nomor satu hingga 58%, dengan zero-click rate mencapai 83% pada jenis pencarian tertentu.

Di Indonesia, tren serupa juga mulai terlihat. Dalam riset yang dipublikasikan oleh Dedy Budiman, Champion Sales Trainer sekaligus Founder Sales Director Indonesia (SDI),  sebanyak 74,6% pengguna internet aktif menggunakan AI untuk riset produk, dan 52,3% keputusan pembelian dipengaruhi oleh brand yang disebut dalam jawaban AI.

Temuan ini menunjukkan bahwa visibilitas dalam sistem AI tidak hanya berdampak pada pencarian informasi, tetapi juga pada tahap awal pengambilan keputusan konsumen. Brand yang tidak muncul dalam jawaban AI berisiko tidak masuk dalam pertimbangan sejak awal.

Menurut analisis Avonetiq, kondisi ini menciptakan perubahan mendasar dalam cara brand bersaing di ranah digital. Jika sebelumnya keberhasilan diukur dari peringkat dan traffic, kini visibilitas ditentukan oleh apakah sebuah brand dianggap cukup kredibel untuk dirangkum sebagai jawaban.

“Dulu kompetisinya soal ranking. Sekarang, kompetisinya soal kepercayaan. AI tidak menampilkan semua opsi, [melainkan] hanya yang dianggap paling relevan dan bisa diverifikasi,” ujar Alexandro Wibowo, Co-Founder & Managing Partner dari Avonetiq.

Berbeda dengan mesin pencari tradisional, sistem berbasis AI bekerja dengan menggabungkan berbagai sumber informasi, mengevaluasi konsistensi narasi, serta menilai kredibilitas sebelum menyusun jawaban. Dalam sistem ini, brand dengan jejak digital yang tidak konsisten atau minim validasi eksternal berisiko tidak muncul sama sekali.

Sejumlah praktisi mulai melihat bahwa perubahan ini menandai fase baru dalam strategi digital. Fokus tidak lagi hanya pada optimasi website, tetapi pada bagaimana sebuah brand dipahami sebagai entitas yang kredibel di berbagai sumber.

Pendekatan ini sering dikaitkan dengan konsep AI Visibility Optimization (AVO), yaitu strategi yang berfokus pada pembangunan otoritas digital secara menyeluruh agar brand dapat dikenali, dipahami, dan dipercaya oleh sistem AI.

AVO melibatkan kombinasi antara struktur konten yang lebih mudah diproses oleh AI, konsistensi narasi lintas platform, serta penguatan referensi eksternal melalui publikasi dan validasi pihak ketiga.

“Di era AI, visibilitas bukan lagi soal seberapa sering brand muncul, tetapi apakah brand tersebut cukup jelas, konsisten, dan memiliki bukti yang bisa diverifikasi,” tambah Alexandro.

Dengan semakin dominannya peran AI dalam proses pencarian, perusahaan didorong untuk mengevaluasi ulang strategi digital mereka. Tantangan utama tidak lagi sekadar menarik traffic, tetapi memastikan brand tetap relevan dalam sistem yang kini menjadi perantara utama antara informasi dan keputusan konsumen.

Dalam lanskap baru ini, hanya brand yang mampu membangun kredibilitas secara konsisten yang memiliki peluang untuk tetap muncul—bukan hanya di hasil pencarian, tetapi dalam jawaban AI itu sendiri.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Related Posts

    Resmi Buka Kampus Baru, BINUS ASO Siapkan Talenta Engineering untuk Industri Masa Depan

    Kampus baru BINUS ASO di Kawasan Ekonomi Khusus D-HUB mengedepankan pembelajaran berbasis praktik, inovasi mahasiswa, dan kolaborasi pendidikan Indonesia–Jepang BINUS ASO School of Engineering resmi membuka kampus baru di Kawasan…

    Jasa Buzzer Adalah Promosi dengan Ketentuan dan Risiko Menurut JasaViral

    Jasa buzzer adalah promosi berbayar di media sosial untuk produk atau kampanye, dan perannya berbeda dari KOL maupun pendengung politik. JasaViral, platform social media marketing yang beroperasi sejak 2015, menguraikan…

    You Missed

    Get your gloves on Australia! Registrations for Clean Up Australia Day 2027 are now open

    Get your gloves on Australia! Registrations for Clean Up Australia Day 2027 are now open

    Resmi Buka Kampus Baru, BINUS ASO Siapkan Talenta Engineering untuk Industri Masa Depan

    Resmi Buka Kampus Baru, BINUS ASO Siapkan Talenta Engineering untuk Industri Masa Depan

    Jasa Buzzer Adalah Promosi dengan Ketentuan dan Risiko Menurut JasaViral

    Jasa Buzzer Adalah Promosi dengan Ketentuan dan Risiko Menurut JasaViral

    MEDIA ALERT: RECAP OF HIGHLIGHTS – PURANA AT SOLO BATIK FASHION X SOLO FASHION WEEK 2026

    MEDIA ALERT: RECAP OF HIGHLIGHTS – PURANA AT SOLO BATIK FASHION X SOLO FASHION WEEK 2026

    TOMOHON JAZZ FESTIVAL 2026 SUKSES DIGELAR DUA HARI DAN CATAT SEJARAH FESTIVAL BARU DI SULAWESI UTARA

    TOMOHON JAZZ FESTIVAL 2026 SUKSES DIGELAR DUA HARI DAN CATAT SEJARAH FESTIVAL BARU DI SULAWESI UTARA

    Jaga Kesehatan Pekerja, LRT Jabodebek Perkuat Fondasi Pelayanan Transportasi Publik

    Jaga Kesehatan Pekerja, LRT Jabodebek Perkuat Fondasi Pelayanan Transportasi Publik