{"id":28948,"date":"2025-09-10T20:06:29","date_gmt":"2025-09-10T11:06:29","guid":{"rendered":"https:\/\/asianicinsights.com\/?p=28948"},"modified":"2025-09-10T20:44:46","modified_gmt":"2025-09-10T11:44:46","slug":"strategi-penguatan-industri-baja-berkaca-dari-ekosistem-international","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/asianicinsights.com\/?p=28948","title":{"rendered":"Strategi Penguatan Industri Baja: Berkaca dari Ekosistem International"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta, 10 September 2025 &#8211; Industri baja Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung pembangunan nasional. Dengan permintaan baja yang terus meningkat seiring pembangunan infrastruktur, hilirisasi industri, dan pertumbuhan sektor manufaktur, pasar domestik diperkirakan akan tumbuh pesat. Namun, potensi ini masih memiliki sejumlah tantangan.<\/p>\n<p>Demi mengoptimalkan peluang ini, strategi perlindungan menyeluruh<br \/>\ndinilai sangat penting agar industri dalam negeri dapat berdiri kokoh dan<br \/>\nmenjadi pilar kemandirian ekonomi nasional.<\/p>\n<p><b>AS Terapkan Proteksi Menyeluruh<\/b><\/p>\n<p>Amerika Serikat memperkuat kebijakan<br \/>\nproteksi industri baja dengan memperluas cakupan Section 232 dari Trade<br \/>\nExpansion Act of 1962. Sejak Agustus 2025, Washington menambahkan 407 subpos HS<br \/>\nbaru dengan tarif 50 persen, mencakup tidak hanya baja dasar, tetapi juga<br \/>\nproduk turunan hingga barang jadi berbasis baja seperti suku cadang otomotif,<br \/>\nperalatan rumah tangga, dan komponen kelistrikan.<\/p>\n<p>Langkah ini menutup celah impor yang<br \/>\nsebelumnya dimanfaatkan eksportir dengan mengalihkan ekspor baja menjadi produk<br \/>\nhilir. Presiden AS saat itu, Donald Trump, menegaskan kebijakan ini sebagai<br \/>\nstrategi \u201cTotal Defense\u201d demi menjaga kemandirian industri baja domestik.<\/p>\n<p><b>India<br \/>\nAgresif Terapkan Trade Remedies<\/b><\/p>\n<p>Pengamat<br \/>\nindustri baja dan pertambangan Widodo Setiadharmaji memberikan gambaran<br \/>\npelajaran berharga dari negara India yang menunjukkan bagaimana instrumen trade<br \/>\nremedies digunakan secara agresif untuk melindungi industri baja dalam<br \/>\nnegerinya. Widodo menyebutkan bahwa Directorate General of Trade Remedies<br \/>\n(DGTR) telah merampungkan penyelidikan safeguard terhadap impor non-alloy dan<br \/>\nalloy steel flat products, dengan rekomendasi bea masuk pengamanan selama tiga<br \/>\ntahun sebesar 12%, 11,5%, dan 11%.<\/p>\n<p>Safeguard<br \/>\nini diarahkan pada lonjakan impor dari produsen besar dunia seperti China,<br \/>\nJepang, Korea Selatan, dan Vietnam yang dinilai menekan produsen baja domestik<br \/>\nIndia. Namun, Indonesia justru dikecualikan dari pengenaan safeguard karena<br \/>\npangsa impornya di bawah 3%, sehingga peluang ekspor baja Indonesia ke India<br \/>\nsemakin terbuka.<\/p>\n<p>Widodo<br \/>\nmenambahkan bahwa India juga berpengalaman dalam memperlihatkan kecepatan<br \/>\npemerintahnya dalam mengambil tindakan. Contohnya, petisi safeguard yang diajukan<br \/>\npada Desember 2024 hanya memakan waktu tiga bulan untuk pemerintah India<br \/>\nefektif dalam memberlakukan provisional safeguard duty sebesar 12%, dan pada<br \/>\nAgustus 2025 DGTR mengeluarkan keputusan final. Sehingga mekanisme ini<br \/>\nmemastikan industri tidak dibiarkan menunggu terlalu lama tanpa perlindungan.<\/p>\n<p>Dalam penerapannya di Indonesia, Widodo menjelaskan bahwa KADI perlu<br \/>\nmempertimbangkan penerapan provisional antidumping duty. Tanpa langkah ini,<br \/>\npenyelidikan yang panjang berisiko membuat produsen nasional terlebih dahulu<br \/>\nmengalami kerugian besar, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kemampuan mereka<br \/>\nuntuk terus beroperasi.<\/p>\n<p><b>Indonesia Perlu Adopsi Strategi<br \/>\nSerupa<\/b><\/p>\n<p>Direktur Utama Krakatau Steel, Muhamad<br \/>\nAkbar Djohan, menilai strategi Amerika Serikat layak dijadikan rujukan bagi<br \/>\nIndonesia. Menurutnya, industri baja nasional masih menghadapi tekanan dari<br \/>\nmembanjirnya produk impor, baik baja maupun barang jadi berbasis baja, yang<br \/>\nlebih murah dibandingkan produksi lokal.<\/p>\n<p>\u201cIndonesia belum memiliki kebijakan<br \/>\ntarif yang secara tegas menahan arus barang jadi berbasis baja. Akibatnya,<br \/>\nindustri hulu kehilangan pasar, sementara industri hilir kesulitan tumbuh,\u201d<br \/>\nujar Akbar Djohan.<\/p>\n<p>Ia menekankan perlunya strategi proteksi<br \/>\nmenyeluruh yang mencakup seluruh rantai nilai industri baja, agar pasar<br \/>\ndomestik tidak terus tergerus oleh barang impor berbiaya rendah.<\/p>\n<p><b>Baja sebagai Fondasi Nasional<\/b><\/p>\n<p>Akbar Djohan menegaskan bahwa baja harus<br \/>\ndipandang sebagai komoditas strategis, bukan sekadar industri dasar. \u201cBaja<br \/>\nadalah tulang punggung pembangunan, menopang sektor otomotif, energi,<br \/>\ninfrastruktur, hingga pertahanan. Tanpa kemandirian baja, sulit bagi Indonesia<br \/>\nmencapai visi Indonesia Emas 2045,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Menurutnya, pembelajaran dari Amerika<br \/>\nSerikat jelas: proteksi tidak bisa berhenti pada produk hulu, tetapi juga harus<br \/>\nmencakup barang jadi untuk memastikan industri baja tumbuh sehat dari hulu<br \/>\nhingga hilir.<\/p>\n<p>Dengan strategi total defense, Indonesia<br \/>\ndapat memperkuat daya saing industri nasional, menciptakan kemandirian pasok,<br \/>\nserta melindungi kepentingan strategis jangka panjang.<\/p>\n<p><b>Penguatan Baja dan Asta Cita<br \/>\nPemerintah<\/b><\/p>\n<p>Akbar Djohan menambahkan, penguatan<br \/>\nindustri baja sejalan dengan Asta Cita pemerintah yang menargetkan kemandirian<br \/>\nekonomi dan industrialisasi. Baja, menurutnya, menjadi prasyarat penting untuk<br \/>\nmendorong hilirisasi, memperluas kesempatan kerja, dan memperkuat daya saing<br \/>\nglobal.<\/p>\n<p>\u201cAsta Cita tidak akan tercapai bila<br \/>\nfondasi industrinya rapuh. Baja harus diperkuat agar pembangunan infrastruktur<br \/>\ndan manufaktur memiliki penopang yang kokoh,\u201d jelasnya. <\/p>\n<p>Dengan melindungi industri baja,<br \/>\npemerintah sekaligus memastikan keberlanjutan visi pembangunan jangka panjang<br \/>\nyang inklusif dan berdaya saing.<\/p>\n<p><b>Strategi Penguatan Bisnis Krakatau<br \/>\nSteel<\/b><\/p>\n<p>Sebagai upaya penguatan industri baja<br \/>\ndalam negeri ini PT Krakatau Steel (Persero) Tbk telah melakukan penguatan<br \/>\nbisnis. Krakatau Steel menegaskan kesiapannya untuk menjadi mitra utama dalam<br \/>\npenyediaan baja nasional.<\/p>\n<p>&#8220;Perusahaan siap memenuhi<br \/>\npermintaan baja dalam skala besar, mulai dari proyek infrastruktur strategis<br \/>\nhingga kebutuhan industri pertahanan nasional,&#8221; Akbar Djohan menambahkan.<\/p>\n<p>Dukungan ini mencakup penyediaan baja<br \/>\nbagi dua BUMN penting dalam ekosistem pertahanan, yakni PT PAL Indonesia dan PT<br \/>\nPindad (Persero).<\/p>\n<p>Dengan rekam jejak sebagai pemasok utama<br \/>\nbaja untuk berbagai proyek besar dalam negeri, Krakatau Steel terus<br \/>\nmeningkatkan efisiensi dan daya saing melalui berbagai inisiatif . Hal ini<br \/>\nterbukti dari tahun ini Ks telah melakukan ekspor produk HRC ke Eropa dan<br \/>\nAustralia dengan total tonase sebesar 10.721 tons<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 10 September 2025 &#8211; Industri baja Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi tulang punggung pembangunan nasional. Dengan permintaan baja yang terus meningkat seiring pembangunan infrastruktur, hilirisasi industri, dan pertumbuhan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":28950,"comment_status":"close","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-28948","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28948","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=28948"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28948\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":28949,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28948\/revisions\/28949"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/28950"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=28948"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=28948"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=28948"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}