{"id":28822,"date":"2025-09-09T13:14:37","date_gmt":"2025-09-09T04:14:37","guid":{"rendered":"https:\/\/asianicinsights.com\/?p=28822"},"modified":"2025-09-09T13:46:01","modified_gmt":"2025-09-09T04:46:01","slug":"poe-life-ketika-manusia-berteman-dengan-teknologi-untuk-kedalaman-berekspresi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/asianicinsights.com\/?p=28822","title":{"rendered":"Poe-Life: Ketika Manusia Berteman dengan Teknologi untuk Kedalaman Berekspresi"},"content":{"rendered":"\n<p>Kemajuan teknologi<br \/>\ntelah mengubah cara manusia dalam berelasi dan menjalin komunikasi baik dengan<br \/>\nmanusia lain maupun dengan teknologi itu sendiri. Di satu sisi teknologi<br \/>\nmembawa harapan baru untuk menciptakan kesempatan serta mempersempit<br \/>\nkesenjangan, namun disisi lain teknologi terkadang membawa kesenjangan antar<br \/>\nmanusia. Menyadari dinamika interaksi manusia dan teknologi, maka munculah<br \/>\ndiskusi mengenai perlunya empati yang bertemu dengan teknologi.<\/p>\n<p> Sebagai<br \/>\naplikasi penulisan, Creative Digital English, Fakultas Humaniora, BINUS University mengusung pertemuan antara empati dan teknologi bernama Poe-Life.<br \/>\nPoe-life adalah aplikasi penulisan puisi kreatif dengan tujuan utama<br \/>\nmenciptakan media alternatif terapi puisi (disebut juga &#8220;Sanative<br \/>\nWriting&#8221;), sebagai upaya untuk menemani (menghasilkan materi konseling)<br \/>\nbagi siapa saja yang membutuhkan ekspresi tantangan hidup yang lebih dalam. Aplikasi ini telah<br \/>\nmenerapkan teknologi empati di mana manusia masih dianggap memiliki emosi dan<br \/>\nempati, serta memegang kendali, sehingga generator puisi berbantuan AI<br \/>\n&#8220;dapat mendukung orang terhubung satu sama lain dan dengan diri kita<br \/>\nsendiri dengan cara yang paling manusiawi&#8221; (Crum, 2022). <\/p>\n<p>Dalam proses<br \/>\npembuatan puisi, pengguna diberi kebebasan apakah menggunakan AI atau<br \/>\nmelanjutkan secara manual, murni dari ekspresi mereka sendiri. Bahkan setelah mereka memilih untuk menggunakan AI, mereka masih<br \/>\nmengendalikan prosesnya. AI (bernama Plath\u2014dari Sylvia Plath) hanya melanjutkan<br \/>\nkata atau baris pengguna dengan menyarankan 3 hingga 5 kata, yang dapat mereka<br \/>\nedit, gunakan, atau hapus. Dialog ini dapat terjadi sejauh pengguna<br \/>\nmembutuhkannya hingga emosi atau ide yang tertekan diekspresikan dengan baik,<br \/>\ndiiringi musik latar, mendukung nuansa emosi yang dipilih (senang, sedih, atau<br \/>\nmarah). <\/p>\n<p>Dalam prosesnya, pengguna dapat menggunakan bank kata yang disediakan<br \/>\nuntuk kategori kata penyembuhan dan menyakitkan, dengan terjemahan bahasa<br \/>\nIndonesia juga.\u00a0 Setelah puisi selesai,<br \/>\npengguna memiliki dua opsi: mereka dapat membagikannya dengan teman-teman<br \/>\nmereka, masyarakat umum, dan fasilitator (profesor pembinaan), atau mereka<br \/>\ndapat menyimpannya untuk diri mereka sendiri dan hanya membagikannya dengan<br \/>\nfasilitator. Setelah dibagikan, pengguna lain di komunitas dapat berkomentar,<br \/>\nmemberikan emotikon cinta\/suka dan empati, dan berbagi. Diharapkan seluruh<br \/>\nproses dapat memberikan pengalaman penyembuhan pribadi kepada pengguna dan juga<br \/>\nmateri puitis tertulis untuk diskusi hangat lebih lanjut dengan konselor bila<br \/>\ndibutuhkan. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kemajuan teknologi telah mengubah cara manusia dalam berelasi dan menjalin komunikasi baik dengan manusia lain maupun dengan teknologi itu sendiri. Di satu sisi teknologi membawa harapan baru untuk menciptakan kesempatan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":28824,"comment_status":"close","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-28822","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28822","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=28822"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28822\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":28823,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28822\/revisions\/28823"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/28824"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=28822"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=28822"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=28822"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}