{"id":28176,"date":"2025-09-01T20:01:48","date_gmt":"2025-09-01T11:01:48","guid":{"rendered":"https:\/\/asianicinsights.com\/?p=28176"},"modified":"2025-09-01T20:44:41","modified_gmt":"2025-09-01T11:44:41","slug":"warga-wonorejo-bangkitkan-ekonomi-lewat-rehabilitasi-mangrove-bersama-lindungihutan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/asianicinsights.com\/?p=28176","title":{"rendered":"Warga Wonorejo Bangkitkan Ekonomi Lewat Rehabilitasi Mangrove Bersama LindungiHutan"},"content":{"rendered":"\n<p><b>Surabaya, 28 Agustus 2025<\/b> \u2014 Sejak 2008, masyarakat di kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya, aktif melakukan rehabilitasi mangrove secara swadaya. Namun, keterbatasan dana membuat upaya tersebut berjalan lambat, hingga akhirnya pada 2021 mereka menjalin kolaborasi dengan platform konservasi LindungiHutan.<\/p>\n<p>\u201cAwalnya kami bergerak tanpa dana APBD, hanya atas dasar kepedulian dari masyarakat. Tantangan terbesar ya pendanaan. Kehadiran LindungiHutan membantu membuka akses,\u201d kata Ahmad David (37), pegiat lingkungan dan mitra petani mangrove Wonorejo, Jumat (26\/8).<\/p>\n<p>David menyebutkan, sejak program berjalan, masyarakat merasakan manfaat ganda. Ekonomi lokal tumbuh lewat usaha penyemaian bibit, penanaman, dan pengolahan buah mangrove menjadi sirup maupun dodol. \u201cDampak sosialnya, warga makin peduli lingkungan. Gotong royong lebih kuat,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" style=\"width: 100%\" src=\"https:\/\/imagedelivery.net\/H6_s_Eb_ylTWnSEV3HlmYQ\/cbfe0de1-05fc-4dfa-4a31-a6fa6145f300\/public\" alt=\"Warga Wonorejo bergotong royong menanam mangrove (Foto: Tim LindungiHutan)\" \/><\/p>\n<p>Secara ekologis, kondisi pesisir juga membaik. Abrasi berkurang, udara lebih bersih, dan keanekaragaman hayati meningkat, termasuk munculnya kembali burung migran Great Egret (<i>Ardea alba<\/i>). Burung berleher panjang berwarna putih itu dikenal sebagai spesies migran yang melintasi jalur <b>East Asian\u2013Australasian Flyway<\/b>, dari Asia Timur hingga Australia.<\/p>\n<p>Kehadirannya menjadi tanda penting, termasuk habitat pesisir kembali sehat. \u201cGreat Egret datang karena ada makanan yang cukup. Akar mangrove jadi tempat ikan dan udang berkembang biak, dan itu menarik burung pemangsa seperti egret. Artinya rantai makanan kita sudah mulai pulih,\u201d jelas David.<\/p>\n<p>Kendati demikian, tantangan masih ada, terutama sampah plastik dan limbah industri yang memengaruhi kualitas air, termasuk meninggalkan bau dan warna hitam pekat. \u201cKalau pohon bisa tumbuh, sampah masih jadi musuh utama,\u201d tutur David.<\/p>\n<p>CEO LindungiHutan, Miftachur \u201cBen\u201d Robani, menegaskan bahwa keterlibatan warga lokal menjadi kunci keberlanjutan program. \u201cRestorasi bukan hanya menanam pohon, tapi juga melibatkan masyarakat dalam pemantauan jangka panjang. Ketika warga merasa memiliki, hutan akan terjaga,\u201d katanya.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.nature.com\/articles\/ngeo1123\">Penelitian<\/a> menyebutkan mangrove menyimpan 3\u20135 kali lebih banyak karbon per unit area dibanding hutan daratan tropis. Dalam hal perlindungan pesisir, mangrove bisa mengurangi energi gelombang hingga 66% dalam 100 m area, atau 75% dalam 200 m, tergantung kepadatan dan struktur fisiknya.<\/p>\n<p>David berharap kolaborasi ini diperkuat dengan pelatihan dan pendampingan keterampilan. \u201cKami ingin keberlanjutan, bukan hanya menanam. Untuk donatur juga kami harap terus mendukung karena dampaknya nyata bagi ekonomi dan lingkungan,\u201d tutupnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Surabaya, 28 Agustus 2025 \u2014 Sejak 2008, masyarakat di kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya, aktif melakukan rehabilitasi mangrove secara swadaya. Namun, keterbatasan dana membuat upaya tersebut berjalan lambat, hingga akhirnya&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":28178,"comment_status":"close","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-28176","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28176","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=28176"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28176\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":28177,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/28176\/revisions\/28177"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/28178"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=28176"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=28176"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/asianicinsights.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=28176"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}