JAKARTA, 17 Januari 2026 – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat langkah penanganan darurat pascabencana banjir bandang dan tanah longsor di Provinsi Aceh. Fokus utama saat ini adalah memulihkan akses pada tujuh jembatan putus di ruas vital Batas Bireuen/Bener Meriah – Batas Bener Meriah/Aceh Tengah – Kota Takengon.
Hingga saat
ini, lima dari tujuh jembatan tersebut telah kembali fungsional, yakni Jembatan
Alue Kulus, Jembatan Krueng Rongka, dan Jembatan Weihni Lampahan. Sementara
itu, dua jembatan lainnya, yaitu Jembatan Weihni Enang-Enang dan Jembatan Jamur
Ujung, sedang dalam proses penanganan darurat menggunakan Jembatan Bailey.
Menteri PU,
Dody Hanggodo, menegaskan bahwa pemulihan konektivitas jalan dan jembatan
merupakan prioritas utama pemerintah dalam situasi tanggap darurat guna
menjamin kelancaran distribusi logistik dan aktivitas warga.
“Konektivitas
adalah urat nadi kehidupan masyarakat. Dalam kondisi bencana, yang terpenting
adalah memastikan akses tetap terbuka agar mobilitas warga, bantuan
kemanusiaan, dan distribusi logistik tidak terhenti,” ujar Menteri Dody.
Progres
Penanganan Lintas Tengah (Bireuen – Takengon)
Di jalur lintas
tengah ini, akses Batas Bireuen – Takengon sudah tembus secara fungsional
melalui jalan alternatif. Khusus untuk Jembatan Jamur Ujung, pemasangan
Jembatan Bailey saat ini memasuki tahap pengujian beban (loading test)
sebelum dibuka sepenuhnya untuk umum.
Selain itu,
Ruas Jalan Kota Bireuen – Batas Bireuen/Bener Meriah juga telah terhubung
kembali sejak 18 Desember 2025. Hal ini tercapai setelah pemasangan Jembatan
Bailey di Teupin Mane dan penanganan sementara pada titik longsoran selesai
dilakukan.
Penanganan
intensif juga dilakukan pada Ruas Geumpang – Pameue – Genting Gerbang – Simpang
Uning. Segmen Geumpang hingga Genting Gerbang kini sudah dapat dilalui
kendaraan.
Untuk segmen
Genting Gerbang – Simpang Uning, lalu lintas dialihkan sementara ke jalur
alternatif via Angkup untuk menghindari Jembatan Titi Merah dan Jembatan Krueng
Pelang yang rusak berat. Pemasangan Jembatan Bailey di Krueng Pelang terus
dikebut dan ditargetkan fungsional pada 16 Januari 2026.
Di lokasi lain,
Kementerian PU mencatat sejumlah pemulihan akses signifikan:
· Ruas Meureudu – Batas Pidie Jaya/Bireuen: Akses fungsional total untuk semua kendaraan sejak 12 Desember
2025 setelah penimbunan oprit jembatan rampung.
· Ruas Kota Bireuen – Batas Aceh Utara: Konektivitas pulih menggunakan Jembatan Bailey Krueng Tingkem
(kapasitas 30 ton) sejak 27 Desember 2025, serta jalur alternatif Jembatan
Bailey Awe Geutah yang fungsional sejak 19 Desember 2025.
Konektivitas
Wilayah Gayo dan Aceh Tenggara
Kementerian PU
juga memastikan konektivitas di wilayah pegunungan Gayo hingga ke selatan Aceh
terus terjaga. Pada Ruas Batas Aceh Tengah/Nagan Raya – Lhok Seumot – Jeuram,
kendaraan roda dua dan empat sudah dapat melintas via Jembatan Bailey Krueng
Beutong sejak 9 Januari 2026.
Jalur
penghubung Batas Gayo Lues/Aceh Tenggara – Kota Kutacane pun telah terhubung
kembali. Hal ini menyusul penanganan sembilan titik longsor dan pemasangan
Jembatan Bailey di Lawe Mengkudu I serta Lawe Penanggalan yang fungsional sejak
29 Desember 2025.
Meskipun sempat
terjadi longsor susulan pada 3 Januari 2026 di ruas Blangkejeren – Batas Gayo
Lues, tim di lapangan berhasil menangani hambatan tersebut sehingga jalur
kembali terbuka pada 9 Januari 2026. Kini, ruas Genting Gerbang – Celala hingga
ke perbatasan Aceh Tenggara telah kembali fungsional.
Kementerian PU
berkomitmen untuk terus memperkuat penanganan di lapangan, baik melalui
penyediaan jembatan darurat maupun persiapan konstruksi permanen, agar
pemulihan wilayah terdampak bencana di Aceh dapat berjalan berkelanjutan.
Program kerja ini
merupakan bagian dari “Setahun Bekerja, Bergerak – Berdampak” dalam menjalankan
ASTA CITA dari Presiden Prabowo Subianto.
#SigapMembangunNegeriUntukRakyat
#SetahunBerdampak
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES





