Jelang Rilis NFP, Harga Emas Tunjukkan Sinyal Penguatan Berkelanjutan

Harga emas global kembali mencatatkan penguatan dan melanjutkan tren naik yang telah terjadi selama empat sesi perdagangan berturut-turut. Berdasarkan pergerakan pasar, harga emas spot (XAU/USD) berada di kisaran $4.487 pada perdagangan Selasa (6/1), menguat hampir 1%, serta semakin mendekati area psikologis $4.500 pada Rabu (7/1). Penguatan ini terjadi di tengah naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan menguatnya Dolar AS, dua faktor yang umumnya memberikan tekanan terhadap pergerakan harga emas.

Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai bahwa kenaikan harga emas saat ini didukung oleh kondisi teknikal yang masih kuat. Berdasarkan kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average, tren bullish pada pergerakan XAU/USD terlihat semakin solid. Harga yang bergerak stabil di atas rata-rata pergerakan menunjukkan dominasi minat beli di pasar, sementara tekanan jual relatif terbatas dalam jangka pendek.

Dari sudut pandang teknikal, Andy Nugraha menjelaskan bahwa selama harga mampu bertahan di atas area support terdekat dan tekanan beli tetap terjaga, XAU/USD berpotensi melanjutkan kenaikan hingga menguji level $4.520. Level tersebut menjadi target kenaikan terdekat yang patut diperhatikan pelaku pasar. Meski demikian, potensi koreksi tetap terbuka. Apabila harga gagal mempertahankan momentum kenaikan dan terjadi aksi ambil untung, maka area $4.444 diproyeksikan menjadi support terdekat yang berpeluang diuji.

Tidak hanya didorong oleh faktor teknikal, penguatan harga emas juga mendapat sokongan dari sentimen fundamental global. Pada awal perdagangan sesi Asia hari Rabu, harga emas tercatat naik lebih dari 1%, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik serta ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga di Amerika Serikat. Situasi geopolitik kembali memanas setelah Amerika Serikat melancarkan operasi militer besar terhadap Venezuela dan mengumumkan penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya. Ketidakpastian yang berkembang dari krisis tersebut mendorong investor kembali memburu aset safe haven, termasuk emas.

Sementara itu, dari sisi kebijakan moneter, risalah FOMC mengindikasikan bahwa mayoritas pejabat Federal Reserve masih memandang penurunan suku bunga sebagai langkah yang sesuai, seiring dengan meredanya tekanan inflasi. Namun demikian, terdapat perbedaan pandangan terkait waktu dan besaran penurunan suku bunga tersebut. Berdasarkan alat CME FedWatch, pasar memperkirakan probabilitas sekitar 82% bahwa suku bunga acuan akan tetap dipertahankan pada pertemuan The Fed pada 27–28 Januari mendatang. Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah cenderung mengurangi biaya peluang dalam memegang emas, sehingga memberikan dukungan tambahan bagi harga logam mulia.

Ke depan, fokus pelaku pasar akan tertuju pada rilis data ekonomi utama Amerika Serikat, termasuk PMI Jasa ISM serta laporan ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls (NFP) bulan Desember. Apabila data tenaga kerja menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, Dolar AS berpotensi menguat dan dapat menekan harga emas dalam jangka pendek. Namun selama ketidakpastian global masih tinggi dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter tetap terjaga, harga emas diperkirakan masih bergerak dalam tren bullish, sejalan dengan proyeksi dari Dupoin Futures.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

  • Related Posts

    Stablecoin Jadi Lapisan Proteksi Portofolio di Tengah Tekanan Rupiah dan Ketidakpastian Global

    Jakarta, 3 Mei 2026 – Di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan terhadap mata uang emerging markets, investor mulai menggeser fokus dari sekadar mengejar imbal hasil ke arah yang lebih strategis: melindungi nilai portofolio tanpa kehilangan fleksibilitas untuk menangkap peluang.  Dalam beberapa waktu terakhir, rupiah bergerak di kisaran Rp17.300–Rp17.400 per dolar AS, mencerminkan tekanan dari penguatan dolar global serta ekspektasi kebijakan suku bunga yang bertahan lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Kondisi ini mendorong investor untuk semakin selektif dalam mengelola eksposur risiko, sekaligus mencari instrumen yang mampu menjaga nilai di tengah volatilitas pasar.  Dalam konteks tersebut, pendekatan terhadap portofolio pun mulai berubah. Portofolio tidak lagi dipandang semata sebagai alat untuk pertumbuhan, tetapi sebagai sistem yang membutuhkan keseimbangan antara proteksi, likuiditas, dan potensi upside. Di tengah dinamika ini, stablecoin mulai memainkan peran yang semakin signifikan sebagai bagian dari strategi alokasi aset modern.  Fenomena ini tercermin dari perkembangan pasar dalam beberapa waktu terakhir. Kapitalisasi stablecoin global terus menunjukkan peningkatan, dengan USDT berada di kisaran US$189 miliar, diikuti USDC sekitar US$77 miliar, sementara pemain baru seperti RLUSD telah menembus US$1,5 miliar dalam waktu relatif singkat. Menariknya, pertumbuhan ini terjadi di tengah volatilitas pasar kripto, mengindikasikan bahwa likuiditas tidak keluar dari ekosistem, melainkan berpindah ke posisi yang lebih defensif.  Peningkatan ini tidak terjadi secara terisolasi. Dalam beberapa bulan terakhir, kombinasi faktor global telah mendorong investor untuk mencari aset yang lebih stabil dan likuid. Ketegangan geopolitik, termasuk konflik di Timur Tengah yang memicu volatilitas harga energi, serta inflasi global yang masih berada di atas target, menciptakan lingkungan pasar yang lebih defensif.  Di saat yang sama, kebijakan moneter yang cenderung higher-for-longer membuat biaya risiko menjadi lebih tinggi, sehingga investor semakin berhati-hati dalam menempatkan modal. Dalam kondisi seperti ini, terjadi pergeseran alokasi aset secara global, dari aset berisiko tinggi menuju instrumen yang mampu menjaga nilai sekaligus mempertahankan fleksibilitas.  Stablecoin berada di titik pertemuan dari kebutuhan tersebut. Berbeda dengan emas yang bersifat defensif namun kurang likuid dalam konteks repositioning cepat, atau dolar konvensional yang memiliki keterbatasan dalam mobilitas, stablecoin menawarkan eksposur terhadap dolar AS dengan likuiditas tinggi serta akses pasar selama 24 jam.…

    Dorong Akses Motor Premium, BRI Finance Tawarkan Skema Pembiayaan Mulai 0,7%

    Jakarta, 1 Mei 2026 – Di tengah dinamika daya beli masyarakat yang masih menghadapi sejumlah tantangan, kendaraan roda dua tetap mempertahankan posisinya sebagai moda transportasi paling relevan di Indonesia. Fleksibilitas,…

    You Missed

    PetroSync Provides API 653 Training to Meet Tank Inspection Standards

    PetroSync Provides API 653 Training to Meet Tank Inspection Standards

    What’s the Best Brand of Omega Fish Oil? 2026 Pharmacist’s Guide to Top 10 Recommended Brands, High-EPA & Avoiding the “IQ Tax”

    What’s the Best Brand of Omega Fish Oil? 2026 Pharmacist’s Guide to Top 10 Recommended Brands, High-EPA & Avoiding the “IQ Tax”

    Stablecoin Jadi Lapisan Proteksi Portofolio di Tengah Tekanan Rupiah dan Ketidakpastian Global

    Stablecoin Jadi Lapisan Proteksi Portofolio di Tengah Tekanan Rupiah dan Ketidakpastian Global

    Dorong Akses Motor Premium, BRI Finance Tawarkan Skema Pembiayaan Mulai 0,7%

    Dorong Akses Motor Premium, BRI Finance Tawarkan Skema Pembiayaan Mulai 0,7%

    Dari Nol ke First Trade: Strategi Trading untuk Pemula dan 5 Aset Kripto untuk Memulai Secara Lebih Terukur

    Dari Nol ke First Trade: Strategi Trading untuk Pemula dan 5 Aset Kripto untuk Memulai Secara Lebih Terukur

    Long Weekend 1–3 Mei, LRT Jabodebek Operasikan 270 Perjalanan per Hari, Jadi Solusi Mobilitas Liburan yang Efisien, Tepat Waktu, dan Terintegrasi

    Long Weekend 1–3 Mei, LRT Jabodebek Operasikan 270 Perjalanan per Hari, Jadi Solusi Mobilitas Liburan yang Efisien, Tepat Waktu, dan Terintegrasi