Harga Emas Kembali Tertekan, Pasar Tunggu Sinyal Baru dari The Fed dan Data Ekonomi AS

Harga emas (XAU/USD) masih melanjutkan tren pelemahannya di awal pekan ini, seiring menurunnya minat terhadap aset safe haven setelah adanya perkembangan positif dalam hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Tekanan jual pada emas berpotensi berlanjut, dengan tren bearish yang masih mendominasi pasar dalam jangka pendek.

Pada perdagangan Jumat (31/10) lalu, emas sempat bertahan di atas level psikologis $4.000 per troy ounce, namun akhirnya terkoreksi hingga ke area $3.985, turun hampir 1% dan mencatatkan penurunan mingguan kedua secara berturut-turut. Tekanan tersebut berlanjut pada awal sesi Asia hari Senin (3/11) di mana logam mulia ini sempat menyentuh level $3.965 setelah penguatan dolar AS dan meningkatnya selera risiko di pasar global.

Berdasarkan analisis dari Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, emas menunjukkan bahwa tren bearish masih dominan berdasarkan sinyal candlestick dan indikator Moving Average. Ia memproyeksikan bahwa jika tekanan jual berlanjut, harga emas berpotensi turun ke kisaran $3.959. Namun, jika terjadi koreksi teknikal, rebound menuju $4.026 dapat terjadi sebelum kembali menghadapi resistensi kuat.

Kondisi pasar saat ini masih dalam fase penyesuaian pasca keputusan The Fed. Emas cenderung mencari arah baru, tetapi selama harga tetap di bawah area $4.026, tekanan jual masih menjadi skenario utama,” jelas Andy Nugraha.

Sentimen positif datang dari kesepakatan parsial antara AS dan Tiongkok yang berhasil menenangkan pasar. Dalam kesepakatan tersebut, Presiden AS Donald Trump menyetujui penurunan tarif dari 57% menjadi 47%, sementara pihak Tiongkok berkomitmen untuk meningkatkan pembelian produk pertanian Amerika dan menangguhkan pembatasan ekspor logam tanah jarang.
Perkembangan ini membuat investor cenderung beralih dari aset aman seperti emas ke aset berisiko seperti saham, sehingga membatasi potensi penguatan logam mulia ini.

Dari sisi kebijakan moneter, pasar juga tengah mencerna pernyataan hawkish dari Ketua The Fed, Jerome Powell, yang menegaskan bahwa penurunan suku bunga lanjutan di Desember belum menjadi kepastian. Sikap hati-hati The Fed ini membuat peluang pemangkasan suku bunga lebih lanjut tahun ini semakin kecil, sehingga memperkuat posisi dolar AS dan menekan harga emas yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.

Selain faktor kebijakan moneter, pelaku pasar kini menantikan rilis data Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur ISM AS untuk bulan Oktober. Data ini akan menjadi katalis penting bagi arah harga emas dalam jangka pendek. Jika hasilnya di bawah ekspektasi, dolar AS berpotensi melemah dan membuka ruang bagi emas untuk kembali menguat. Namun, bila hasilnya positif, tekanan jual kemungkinan akan berlanjut.

Dalam pandangan Dupoin Futures Indonesia, emas saat ini masih berada dalam fase konsolidasi dengan bias negatif. Level $3.959 menjadi area kunci yang perlu diperhatikan — penembusan di bawah level ini dapat memperdalam pelemahan menuju $3.930, sementara penguatan hanya akan terkonfirmasi jika harga mampu menembus dan bertahan di atas $4.026–$4.050.

  • Related Posts

    Dari Mentor Jadi Owner: Sosok di Balik ‘Urban Female’ Luncurkan Parfum ‘FYP’ untuk Dukung Passion Wanita Indonesia

    JAKARTA, [Tanggal] – Setelah bertahun-tahun melanglang buana mendampingi ribuan seller di seluruh Indonesia dalam mengembangkan bisnis mereka lewat platform TiktokShop, Jean Raticia kini resmi mengambil langkah berani dengan meluncurkan brand…

    Kenapa Market Bubble Bisa Terjadi di Pasar Keuangan?

    Pasar keuangan tidak selalu bergerak secara rasional. Dalam beberapa periode tertentu, harga aset dapat meningkat jauh di atas nilai fundamentalnya dan menciptakan kondisi yang dikenal sebagai market bubble. Fenomena ini…

    You Missed

    Dari Mentor Jadi Owner: Sosok di Balik ‘Urban Female’ Luncurkan Parfum ‘FYP’ untuk Dukung Passion Wanita Indonesia

    Dari Mentor Jadi Owner: Sosok di Balik ‘Urban Female’ Luncurkan Parfum ‘FYP’ untuk Dukung Passion Wanita Indonesia

    University of Nueva Caceres Breaks Ground on Learning and Innovation Center in Naga City

    University of Nueva Caceres Breaks Ground on Learning and Innovation Center in Naga City

    Kenapa Market Bubble Bisa Terjadi di Pasar Keuangan?

    Kenapa Market Bubble Bisa Terjadi di Pasar Keuangan?

    Berikut Ini Porsi Wet Food Harian untuk Kucing

    Berikut Ini Porsi Wet Food Harian untuk Kucing

    Indonesia’s New Import Prohibitions Are Changing How New Businesses Plan Market Entry

    Indonesia’s New Import Prohibitions Are Changing How New Businesses Plan Market Entry

    Malaysian Enterprise AI Platform Glem.ai Wins Talent Innovation Award at ITEC 2025, Showcasing Malaysia’s Growing Strength in Global Innovation

    Malaysian Enterprise AI Platform Glem.ai Wins Talent Innovation Award at ITEC 2025, Showcasing Malaysia’s Growing Strength in Global Innovation