Harga Emas Naik ke Rekor Tertinggi Baru, Sentimen Global Dorong Reli Berlanjut

Harga emas (XAU/USD) terus menunjukkan penguatan impresif setelah mencatat kenaikan selama empat hari berturut-turut dan menembus rekor baru di $4.218 per troy ons pada perdagangan Rabu (15/10). Lonjakan harga ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset safe-haven di tengah ketegangan geopolitik, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan pelonggaran moneter Federal Reserve (The Fed).

Menurut Andy Nugraha, Analis Dupoin Futures Indonesia, tren teknikal emas masih sepenuhnya dikuasai pembeli. “Struktur candlestick dan indikator Moving Average memperlihatkan sinyal penguatan yang konsisten. Jika momentum bullish ini berlanjut, XAU/USD berpotensi menguji area $4.275, sementara area $4.177 menjadi batas bawah yang harus dijaga agar tren kenaikan tetap valid,” jelas Andy.

Perdagangan emas pada awal sesi Asia, Kamis (16/10), dibuka dengan penguatan tipis di sekitar $4.210, mendekati level tertinggi sepanjang masa. Sentimen pasar masih didominasi oleh optimisme terhadap pemangkasan suku bunga The Fed yang kini semakin dekat. Dalam pidatonya, Ketua The Fed Jerome Powell menekankan bahwa perlambatan signifikan dalam perekrutan tenaga kerja dapat menjadi risiko bagi ekonomi AS, membuka peluang bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga utama sebanyak dua kali lagi pada tahun ini.

Data LSEG menunjukkan pasar memperkirakan probabilitas 98% untuk pemangkasan 25 basis poin (bp) pada pertemuan bulan Oktober, serta pemangkasan kedua di Desember. Suku bunga yang lebih rendah secara historis mendukung harga emas karena menurunkan imbal hasil dolar AS dan meningkatkan minat terhadap aset tanpa yield seperti logam mulia.

Sementara itu, ketegangan dagang antara AS dan Tiongkok kembali memanas. Washington dan Beijing dikabarkan akan mengenakan biaya pelabuhan tambahan terhadap kapal-kapal yang mengangkut kargo antar kedua negara mulai 14 Oktober. Kebijakan ini dikhawatirkan akan meningkatkan biaya logistik dan memperlambat arus perdagangan global. Ketidakpastian tersebut mendorong investor untuk beralih ke aset aman, memperkuat reli emas di pasar global.

Setiap kali hubungan dagang AS–Tiongkok memanas, harga emas cenderung melonjak karena investor mencari perlindungan dari risiko makroekonomi,” ujar Andy Nugraha. “Kondisi saat ini memperkuat posisi emas sebagai instrumen hedge di tengah gejolak ekonomi dunia.”

Di sisi lain, pasar juga menantikan serangkaian pernyataan pejabat The Fed seperti Michael Barr, Stephen Miran, Christopher Waller, dan Michelle Bowman yang dijadwalkan berbicara pada Kamis ini. Pernyataan mereka akan menjadi acuan baru untuk membaca arah kebijakan moneter AS ke depan. Namun, jika pernyataan tersebut bernada hawkish, dolar AS berpotensi menguat sementara dan memberikan tekanan korektif pada harga emas.

Selain itu, The Fed juga dijadwalkan akan menerima pembaruan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 24 Oktober. Data inflasi ini akan menjadi indikator utama yang menentukan apakah bank sentral akan tetap melanjutkan sikap dovish-nya atau berbalik arah ke kebijakan yang lebih ketat.

Saat ini, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke 4,048%, sementara imbal hasil riil yang sering bergerak berlawanan arah dengan harga emas melemah ke 1,708%. Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa permintaan terhadap aset berisiko rendah masih tinggi di tengah ketidakpastian global.

Secara keseluruhan, tren emas jangka pendek masih positif dengan potensi kenaikan lanjutan selama harga bertahan di atas area $4.177. Level $4.275 menjadi target berikutnya, seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga dan meningkatnya tensi geopolitik. Namun, Andy Nugraha menegaskan pentingnya kehati-hatian. “Volatilitas tinggi bisa memicu koreksi tajam kapan saja. Trader harus menjaga manajemen risiko yang disiplin dan tidak terpancing euforia pasar,” tegasnya.

Dengan kombinasi katalis global yang kuat mulai dari perang dagang, potensi pemangkasan suku bunga, hingga pelemahan dolar AS emas masih berpeluang melanjutkan reli ke level tertinggi berikutnya. Namun, pasar diperkirakan tetap fluktuatif menjelang pernyataan pejabat The Fed dan rilis data inflasi akhir bulan ini.

  • Related Posts

    Posko Angkutan Lebaran 2026 Berakhir, Namun Pelayanan ke Pelanggan Tak Pernah Berhenti

    Bandung (Jawa Barat), 30 Maret 2026 – PT Kereta Api Indonesia (Persero) resmi mengakhiri kegiatan Posko Angkutan Lebaran 2026 pada Senin, 30 Maret 2026. Penutupan posko ini dilaksanakan secara serentak…

    Kementerian PU Salurkan Donasi Rp600 Juta bagi ASN Terdampak Banjir di Sumatera dan Aceh

    JAKARTA – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui program PU Peduli menyalurkan donasi senilai lebih dari Rp600 juta kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian PU yang terdampak bencana banjir di Provinsi…

    You Missed

    Posko Angkutan Lebaran 2026 Berakhir, Namun Pelayanan ke Pelanggan Tak Pernah Berhenti

    Posko Angkutan Lebaran 2026 Berakhir, Namun Pelayanan ke Pelanggan Tak Pernah Berhenti

    Kementerian PU Salurkan Donasi Rp600 Juta bagi ASN Terdampak Banjir di Sumatera dan Aceh

    Kementerian PU Salurkan Donasi Rp600 Juta bagi ASN Terdampak Banjir di Sumatera dan Aceh

    Krakatau Steel Tegaskan Pentingnya Proteksi Industri Baja di Tengah Pergeseran Kebijakan Amerika Serikat

    Krakatau Steel Tegaskan Pentingnya Proteksi Industri Baja di Tengah Pergeseran Kebijakan Amerika Serikat

    Taman Bendera Pusaka Resmi Dibuka, SUCOFINDO Kawal Proyek dari Aspek Kualitas hingga K3

    Taman Bendera Pusaka Resmi Dibuka, SUCOFINDO Kawal Proyek dari Aspek Kualitas hingga K3

    Dupoin Futures Awali 2026 dengan Serangkaian Inisiatif Sosial dan Kolaborasi Industri

    Dupoin Futures Awali 2026 dengan Serangkaian Inisiatif Sosial dan Kolaborasi Industri

    Apa Itu Perlindungan Endpoint dan Mengapa Penting?

    Apa Itu Perlindungan Endpoint dan Mengapa Penting?