Menyalakan Suara, Menghidupkan Ruang: Cerita di Balik Edisi Perdana PR Clubhouse Indonesia

Jakarta, 4 Agustus 2025 — Di sebuah ruangan yang hangat The Plaza, IDN Media HQ, suara-suara yang selama ini hanya bergema dalam kepala, akhirnya mendapat tempat untuk disuarakan. Bukan melalui panggung megah, bukan pula dalam seminar formal dengan susunan kursi yang kaku, tapi lewat sebuah forum hangat yang diinisiasi oleh para praktisi komunikasi sendiri—forum yang mereka sebut PR Clubhouse Indonesia.

Sabtu, 2 Agustus 2025 menjadi hari lahirnya edisi perdana komunitas ini. Mengusung tema #UnmuteYourself, PR Clubhouse tampil sebagai ruang alternatif—ruang yang tidak hanya mempersilahkan orang untuk bicara, tetapi juga mengundang mereka untuk didengarkan.

Hadir sebanyak 100 peserta dari berbagai latar belakang—mahasiswa, profesional muda, hingga praktisi senior—forum ini menjadi tempat perjumpaan lintas generasi dalam dunia komunikasi. Apa yang awalnya dirancang sebagai forum eksperimen, berubah menjadi momen kolektif yang menyentuh dan membekas.

Salah satu segmen utama yang menjadi jantung acara adalah SUPERTALKS, sebuah standing talk yang dirancang untuk menghadirkan dua jenis pembicara: para Superspeaker—profesional muda di bidang PR yang telah melalui proses kurasi, serta Special Guest—praktisi senior dengan pengalaman panjang di ranah komunikasi publik dan korporasi.

Image

Syifa Hidayati, Head of Corporate Communication LRT Jakarta, menjadi pembuka sesi. Dengan tenang namun penuh keyakinan, ia membagikan pemikiran sederhana yang terasa sangat relevan. “Sebelum kita mewakili nama perusahaan, kita perlu belajar merepresentasikan diri sendiri terlebih dahulu,” ungkapnya. Ucapan itu tidak menggurui, tapi menggugah. Ia menekankan pentingnya membangun suara pribadi sebelum menyampaikan pesan institusi—sesuatu yang sering terlupakan di dunia PR yang penuh tekanan citra.

Ike Yuningsih, Senior PR Manager di DOKU, kemudian membawa audiens ke sisi lain pekerjaan kehumasan yang jarang dibicarakan. Ia menyamakan PR dengan ninja—jarang terlihat, tapi berperan vital dalam memastikan pesan sampai dengan tepat. Dengan gaya yang lugas dan jujur, Ike juga membedakan secara praktis antara PR dan marcomm, membuka pandangan peserta tentang posisi strategis komunikasi dalam organisasi modern.

Dari sisi praktisi senior, kehadiran Michael Reza Say (Senior Vice President Public Affairs, Danantara Indonesia) dan Adra Janitra (Sekretaris Jenderal, Public Affairs Forum Indonesia) menambahkan lapisan reflektif yang lebih dalam. Michael menyampaikan bahwa esensi komunikasi yang baik justru terletak pada kemampuan mendengar. “Komunikasi bukan soal bicara, tapi soal mendengar dan menyusun ulang apa yang perlu disampaikan,” katanya. Ia mengajak peserta untuk melihat komunikasi bukan sebagai alat persuasi semata, melainkan sebagai praktik empati yang memerlukan kepekaan kontekstual.

Image

Sementara itu, Adra Janitra memberikan gambaran nyata tentang pentingnya membangun kepercayaan dalam hubungan antara institusi dan pemangku kebijakan. “Saat bicara dengan pemerintah atau mitra eksternal, kita membawa institusi. Jadi kepercayaan terhadap kita bukan hal kecil,” ungkapnya. Ia menyoroti pentingnya pemetaan stakeholder sebagai dasar dari komunikasi yang efektif—bukan hanya untuk menangani krisis, tetapi juga dalam membangun hubungan jangka panjang.

Para peserta forum Public Relations Clubhouse mengikuti PR Mixer dimana peserta dibagi ke dalam kelompok kecil untuk berdiskusi lebih intim. Mereka berbagi tantangan sehari-hari di dunia PR.

Namun yang membuat forum ini hidup bukan hanya sesi panggung. Setelah SUPERTALKS, acara dilanjutkan dengan PR Mixer, di mana peserta dibagi ke dalam kelompok kecil untuk berdiskusi lebih intim. Mereka berbagi tantangan sehari-hari: dari tekanan untuk selalu terlihat “baik” di media sosial, dilema membangun personal branding di tengah tuntutan profesionalisme, hingga perasaan terasing sebagai praktisi komunikasi di dalam organisasi yang tidak selalu memahami peran mereka.

Image

Sesi ditutup dengan #UnmuteYourself, forum mikrofon terbuka yang justru menjadi titik balik suasana. Dalam suasana yang santai namun jujur, beberapa peserta maju ke depan dan menyampaikan suara mereka—tanpa naskah, tanpa skrip. Apa yang mereka sampaikan bukanlah pidato, melainkan potongan pengalaman dan pemikiran yang tulus: keresahan, kekaguman, bahkan pengakuan atas rasa lelah yang selama ini tidak sempat diceritakan.

Menurut Arrozi Effendi, Founder PR Clubhouse Indonesia, forum ini lahir dari keresahan kami terhadap ruang diskusi yang semakin kaku dan eksklusif. “Di tengah cepatnya perubahan dunia komunikasi, kami merasa ada kebutuhan akan ruang yang lebih manusiawi—tempat kita bisa belajar tanpa takut salah, berbagi tanpa pencitraan,” ujarnya. Bagi Arrozi, PR Clubhouse bukan soal pencitraan komunitas, tapi tentang keberanian untuk melihat antusiasme yang muncul, PR Clubhouse tidak berhenti di sini. Komunitas ini berencana untuk memperluas format kegiatannya—dari forum diskusi seperti SUPERTALKS, hingga sesi hangout, olahraga bersama, dan percakapan kasual yang tidak melulu soal kerja. Tujuannya sederhana: menciptakan ekosistem komunikasi yang lebih terbuka, adaptif, dan saling mendukung.

Image

Karena pada akhirnya, menjadi PR bukan hanya soal menyusun pesan. Tapi juga soal menyusun ulang ruang-ruang perjumpaan agar setiap suara—sekecil dan sesamar apapun—tetap punya tempat untuk tumbuh.

bersama. Semua dilakukan dengan semangat membuka ruang tumbuh yang relevan bagi generasi baru praktisi komunikasi.

xxxxxx

Public Relations Clubhouse Indonesia adalah komunitas independen yang menjadi ruang kolaborasi, pembelajaran, dan pertumbuhan bersama bagi mahasiswa, lulusan baru, dan profesional muda di bidang komunikasi. Lahir dari semangat kolektif, PR Clubhouse hadir sebagai forum yang jujur, terbuka, dan setara—tempat di mana pengalaman dibagikan, suara didengarkan, dan koneksi bermakna dibangun. Di ruang ini, komunikasi bukan hanya teori, tapi praktik yang hidup dan berkembang bersama komunitasnya.

  • Related Posts

    Trading Bukan Spekulasi: FLOQ Dorong Pendekatan Risk Management untuk Investor Kripto Baru

    Harga Bitcoin Menembus US$81,000 di dalam kisaran hari. Volatilitas pasar memberikan opsi bagi investor untuk melihat peluang dan pada saat bersamaan tetap melakukan manajemen risiko. Pahami bersama Tim Trading Desk…

    Menjawab Tren Touring, BRI Finance Hadirkan Pembiayaan Motor Premium dengan Bunga Kompetitif

    Jakarta, 7 Mei 2026 – Tren touring motor di Indonesia terus menunjukkan peningkatan, seiring berkembangnya gaya hidup berkendara jarak jauh yang mengedepankan pengalaman, eksplorasi, dan konektivitas. Aktivitas ini kini tidak…

    You Missed

    P.A. Properties named Top 9 Developer in South Luzon at Pag-IBIG Star Awards 2025

    P.A. Properties named Top 9 Developer in South Luzon at Pag-IBIG Star Awards 2025

    Trading Bukan Spekulasi: FLOQ Dorong Pendekatan Risk Management untuk Investor Kripto Baru

    Trading Bukan Spekulasi: FLOQ Dorong Pendekatan Risk Management untuk Investor Kripto Baru

    Federal budget 2026-27: UNSW experts available for comment

    Federal budget 2026-27: UNSW experts available for comment

    Menjawab Tren Touring, BRI Finance Hadirkan Pembiayaan Motor Premium dengan Bunga Kompetitif

    Menjawab Tren Touring, BRI Finance Hadirkan Pembiayaan Motor Premium dengan Bunga Kompetitif

    Sinergi untuk Bumi: BRI dan Keuskupan Agung Jakarta Perkuat Kemitraan Strategis Berbasis Ekologi

    Sinergi untuk Bumi: BRI dan Keuskupan Agung Jakarta Perkuat Kemitraan Strategis Berbasis Ekologi

    PetroSync Conducts API 936 Training to Strengthen Refractory Inspection Skills

    PetroSync Conducts API 936 Training to Strengthen Refractory Inspection Skills